Breaking News:

World Culture Forum Diskusikan Rencana Kerja Bidang Kebudayaan di Bali

Forum ini akan mendiskusikan platform atau rencana kerja bidang kebudayaan

Istimewa
Pembicara World Culture Forum, Aleta Baun sedang bercengkrama dengan warga Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA- Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan UNESCO menyelenggarakan World Culture Forum (WCF ) 2016 di BNDCC Nusa Dua, Bali, Selasa (11/10/2016) hingga Sabtu (15/10/2016).

Acara yang sama juga pernah diselenggarakan pada 2013 dengan tema “The power of Culture in Development’ yang menghasilkan Deklarasi Bali atau Bali Promise.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, forum kedua ini merupakan realisasi dari Bali Promise, yaitu mengadakan acara yang sama untuk membicarakan keberlanjutan dari ide yang sudah di bicarakan di WCF 2013 lalu.

Forum ini akan mendiskusikan platform atau rencana kerja bidang kebudayaan dimana hal tersebut sangat penting, yaitu terkait keberlanjutan dari keberadaan kebudayaan.

“Sekarang waktunya kita duduk bersama, merumuskan rencana kerja untuk mengembangkan fungsi kebudayaan di dalam pembangunan,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan bahwa  paltform atau rencana kerja itulah resolusi WCF 2016 ini.

Forum internasional yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia  ini berupa diskusi kebudayaan yang bertemakan ‘Culture for Inclusive Sustainable Planet’ atau ‘Kebudayaan untuk Pembangunan Berkelanjutan’.

Pembicara-pembicara terkenal yang hadir mengisi symposium yaitu, Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Aleta Baun (Kepala Desa Mollo, NTT), Celio Turino (Culture Points, Brazil), Jill Cousins (Dirut Europana), Shinsuke Ota (Japan Water Agency), Wayan Windia (Ahli Subak), dan Desi Anwar (CNN Indonesia).

Ada 6 simposium yang dibahas dalam forum ini, diantaranya Reviving Culture for Rural Sustainability, Water for Life: Reconciling Socio Economic Growth and Environmental Ethics, Interweaving History, Urban Space and Cultural Movement, Culture in the  New Digital World. Reconcilling State, Community and Culture Divides, dan Cultura Diversity for Responsible Development.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa budaya merupakan komponen yang penting.

Melalui forum ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi budaya dalam perannya membantu pembangunan berkelanjutan.

“Saya yakin ini waktunya bagi kita untuk membuat platform saling pengertian dan menghargai keragaman budaya,” katanya.

Lebih dari 1500 peserta dari dalam dan luar negeri  terlibat di dalam  penyelenggaraan forum budaya semesta ini.

Para peserta terdiri dari peserta simposium, International Youth Forum (IYF) , serta International Folk Dance Festival (IFDF).

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved