Tak Gampang Rawat Pasien, Perawat Bertindak Ini Ketika Pasien Komplain dan Marah

Pekerjaan seorang perawat tentu tidaklah mudah karena yang dihadapi adalah orang yang sakit serta keluarga pasien yang terus khawatir dan bingung.

Tak Gampang Rawat Pasien, Perawat Bertindak Ini Ketika Pasien Komplain dan Marah
Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Ilustrasi perawat yang menangani pasien sakit. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tugas seorang perawat yang begitu mulia mendorong Resta Betaliani Wirata, Staf Pengajar STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta memutuskan untuk mendalami dunia keperawatan.

Gadis kelahiran Purbalingga, 21 Oktober 1991ini mengatakan kata care sangat penting artinya bagi perawat.

“Seorang perawat tidak hanya membantu pasien pulih dari kondisi fisik yang sakit, namun juga menguatkannya secara batin,” ujar mahasiswi yang tengah mengenyam pendidikan S2 Keperawatan di Filipina, saat dihubungi Tribun Bali melalui jejaring sosial.

Pekerjaan seorang perawat tentu tidaklah mudah.

Resta Betaliani Wirata
Resta Betaliani Wirata.

Karena yang dihadapi adalah orang sakit serta keluarga pasien yang terus khawatir dan bingung.

Perawat juga kerap dihadapkan dengan berbagai persoalan, termasuk menangani pasien yang cerewet, marah, dan suka komplain.

Namun tantangan itu membuatnya menjadi lebih sabar.

“Menangani manusia yang sedang dalam keadaan sakit itu tidak mudah. Perawat harus sabar menunggu situasi reda, barulah bisa memberi penjelasan dan langkah yang diambil selanjutnya kepada pasien dan keluarganya,” ujar gadis manis yang akrab disapa Resta ini.

Resta pernah mendapatkan pengalaman menghadapi pasien dengan kondisi terminal, yaitu suatu keadaan di mana pasien tidak mempunyai harapan untuk sembuh.

“Dalam kondisi seperti itu, jika kami melakukan semua intervensi ke pasien, rasanya hanyalah sia-sia saja. Pada situasi seperti itu, hal yang dibutuhkan pasien adalah didengarkan kata-katanya,” ujar Resta yang mengatakan pengalaman pertamanya menangani kondisi seperti itu adalah pengalaman berharga.

Staf pengajar STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta ini mengaku sedang mempersiapkan diri menjadi dosen yang baik bagi mahasiswa-mahasiswinya nanti.

“Menjadi pengajar itu juga tidak mudah,” ujar Resta.

Jika ia mampu melakukannya, ia merasa beasiswa yang diberikan kepadanya tidak akan sia-sia.

Bagi Resta, seseorang dengan ilmu yang memadai belum tentu bisa menjadi pengajar yang baik.

Seorang pengajar tidak bisa hanya mengandalkan ilmu pengetahuan saja, namun harus didukung tengan teknik mengajar yang baik hingga materi yang diberikan bisa dimengerti oleh mahasiswa. (*)

Penulis: Ni Putu Vera Eryantini
Editor: Irma Yudistirani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved