Konjen Australia Buka Pameran Black Armada Hitam di Ubud

Pameran ini, yang bercerita tentang dukungan kuat Australia bagi kemerdekaan Indonesia, dikuratori oleh Australian National Maritime Museum.

Konjen Australia Buka Pameran Black Armada Hitam di Ubud
istimewa
Flyer Pameran Armada Hitam di ARMA Ubud, Gianyar, Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Konsulat Jenderal Australia di Bali, bekerjasama dengan Australian National Maritime Museum (ANMM) dan Agung Rai Museum of Art (ARMA), dengan bangga meluncurkan pameran BLACK ARMADA.

Pameran ini akan dibuka bersama oleh Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Bali Drs Anak Agung Gede Geriya MH yang mewakili Gubernur Bali dan Konsul Jenderal Australia, Dr Helena Studdert di Museum ARMA di Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (27/10/2016) dan akan berlangsung hingga Kamis (3/11/2016).

Pameran ini, yang bercerita tentang dukungan kuat Australia bagi kemerdekaan Indonesia, dikuratori oleh Australian National Maritime Museum dan telah sukses dipamerkan di Sydney dan Yogyakarta pada Juli dan Agustus 2015.

Black Armada adalah nama yang diberikan terhadap pelarangan kapal-kapal Belanda di pelabuhan Australia.

Kapal-kapal tersebut membawa tentara dan senjata ke Indonesia pada akhir pendudukan Jepang pada tahun 1945.

Pelarangan ini dilakukan oleh Australian Waterside Workers, bersama dengan pelaut Indonesia, Cina dan India dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah Australia kemudian mengambil peran utama di PBB dalam upaya advokasi bagi pengakuan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949.

"Pameran Armada Hitam memberikan wawasan unik ke dalam kekuatan-kekuatan yang mendukung perjuangan Indonesia untuk menentukan nasib sendiri. Pameran ini juga menyoroti periode historis yang sangat penting dalam hubungan bilateral Australia-Indonesia, " kata Konsul Jenderal Studdert.

Dr Studdert juga mendorong "semua orang untuk mengakses kesempatan belajar yang sangat baik ini, terutama lembaga pendidikan, guru dan siswa".

Pameran ini juga akan menampilkan film pendek (20 menit) produksi tahun 1946 berjudul 'Indonesia Calling' oleh sutradara film Belanda Joris Ivens.

Film ini tidak hanya sebuah film bersejarah, tetapi juga membantu menghidupkan prinsip-prinsip hak untuk menentukan nasib sendiri, kerja sama ekonomi global, kemajuan kesejahteraan sosial dan dunia yang bebas dari keinginan dan ketakutan.

Pameran ini juga bertepatan dengan peringatan 70 tahun wafatnya pahlawan kemerdekaan Indonesia asal Bali, Ngurah Rai yang meninggal dengan para pengikutnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di November 1946.

'Indonesia Calling' juga akan diputar di Betelnut, Ubud pada tanggal 30 Oktober sebagai bagian dari kegiatan Ubud Writers and Readers Festival 2016.

Pemutaran film ini akan mencakup sesi tanya/jawab yang menghadirkan Dr Stephen Gapps dari ANMM, Anthony dan Helen Liem, pendiri pameran dan Agung Rai dari ARMA untuk memperkenalkan peristiwa bersejarah di sekitar film ini. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved