Lacak Pelaku Penusukan Bripda Putu Agus, Polisi Temui Pimpinan Ormas

Saat akan melakukan penangkapan terhadap ketiganya, Tim Jatanras Polda Bali sempat berhadapan dengan puluhan anggota ormas.

Lacak Pelaku Penusukan Bripda Putu Agus, Polisi Temui Pimpinan Ormas
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa/Prima/Dwi S
Kronologi penusukan di Depan Puri Pemayun, Kesiman. Kanan: Bripda Putu Agus saat menjalani perawatan di RS Trijata Denpasar 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pasca kejadian pengeroyokan dan penusukan seorang anggota Direktorat Sabhara Polda Bali, bernama Bripda I Putu Agus Adnyana (20), unit Jatanras dari Polda Bali dan Polresta Denpasar langsung berupaya melacak keberadaan para pelaku yang saat beraksi memakai pakaian adat madya.

Baca: Anggota Ormas Tusuk Leher Polisi, Ini Kronologi Peristiwa Berdarah di Depan Puri Pemayun

Baca: Lepetan, De Gadjah Angkat Bicara: Keluarga Pelaku Penusukan Bripda Putu Ingin Damai

Mendapat informasi yang cukup mengenai ciri-ciri dan keberadaan ketiga pelaku, Suratno lalu mengutus anggotanya untuk menjalin komunikasi dengan koordinator lapangan (korlap) ormas tersebut di Jalan Akasia, Denpasar.

Saat akan melakukan penangkapan terhadap ketiganya, Tim Jatanras Polda Bali sempat berhadapan dengan puluhan anggota ormas.

Namun, pihaknya membangun komunikasi dengan pimpinan ormas tersebut sehingga ketiganya bisa dibawa ke Polda Bali.

“Kami mendapat informasi mereka ini anggota salah satu ormas. Jadi kami juga akhirnya menelusuri keberadaan ormas ini markasnya di mana kemudian kami ke lokasi di situ. Dan benar menurut pengakuan ketuanya mereka memang anggota ormas. Kami mengecek apakah merupakan anggota aktif atau tidak. Semua berdasarkan KTA-nya. Kemudian ketemu pimpinan ormas akhirnya kita melakukan upaya penangkapan terhadap yang bersangkutan,” ujarnya, Jumat (11/11/2016).

Senjata Tajam

Suratno menambahkan, kasus ini akan dilimpahkan ke Polresta Denpasar mengingat laporan kasusnya ada di Polsek Denpasar Timur.

Dari tangan ketiga tersangka, pihaknya mengamankan barang bukti pisau lipat yang digunakan untuk menusuk korban, sebongkah batu yang digunakan melempar kaca mobil korban, dan tiga setel pakaian adat yang dikenakan ketiga tersangka saat melakukan penganiayaan terhadap korban.

“Ketiga tersangka terancam dijerat Pasal 170 tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara. Kita juga akan pasang UU Darurat pada tersangka yang membawa sajam," jelas Suratno. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved