Kesadaran Petani Klungkung Ikut  Asuransi Usaha Tani Padi Masih Rendah

Karena kondisi tersebut, di tahun 2017 nanti pihaknya tidak berani menaikan target AUTP seluas 500 hektar lahan pertanian.

Kesadaran Petani Klungkung Ikut  Asuransi Usaha Tani Padi Masih Rendah
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Seorang petani sedang menanam padi di Klungkung, Rabu (23/11/2016). Kesadaran petani di Klungkung untuk mengikuti program AUTP dianggap masih rendah. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Kesadaran petani di Klungkung untuk mengikuti program AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi) dipandang masih rendah, hal ini diungkapkan Kabid Pengembangan Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Klungkung, Ni Made Artini ketika ditemui di kantornya.

Karena kondisi tersebut, di tahun 2017 nanti pihaknya tidak berani menaikan target  AUTP seluas 500 hektar lahan pertanian.

“Kami rasa saat ini kesadaran petani untuk ikut program AUTP masih rendah. Meskipun, berdasarakan data kami di perioe tanam pertama ini per April-September 2016, petani yang ikut AUTP di Klungkung melebihi target yang kami tentukan sebelumnya, yakni seluas 500 Hektar lahan pertanian,” jelas  Ni Made Artini belum lama ini.

Berdasarkan data yang dihimpun di Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Klungkung, di periode pertama musim tanam padi (per April-September) jumlah lahan pertanian yang mengikuti program AUTP sudah mencapai 1.378 Ha.

Angka ini lebih dari dua kali lipat target yang ditentukan Dinas Pertanian Klungkung yakni seluas 500 ha.

Lahan pertanian yang diasuransikan tersebut sebagian besar di Kecamatan Banjarangkan, yakni seluas total 580.02 ha dari total 22 Subak di wilayah tersebut, lalu Kecamatan Klungkung mencapai 491.79 Hektar dari 13 Subak dan Kecamatan Dawan dengan luas total lahan pertanian yang diasuransikan mencapai 307.00 ha dari total 7 subak.

Angka ini pun meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun pertama pelaksanaan program AUTP di tahun 2015, yakni dibawah 500 hektar  dari 3 Kecamatan tersebut.

“Meskipun angka meningkat, tapi kita belum berani menaikan target. Karena untuk periode pertama ini, premi yang seharusnya dibayarkan petani untuk ikut  AUTP seluruhnya dibarkan CSR. Sehingga, petani tidak membayar sepeserpun untuk ikut AUTP. Kondisi ini belum tentu berlanjut untuk periode  dua nanti (Oktober-Maret). Sepertinya karena kesadaran petani kita masih rendah, hanya untuk bayar premi Rp 9000 per 25 are lahan, terkadang mereka sulit,” terang Ni Made Artini.

Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Pertanian Klungkung mengaku sudah aktif melakukan sosialisasi dan turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman ke petani akan pentingnya program AUTP bagi petani.

Bahkan, saat ini pihaknya tengah mengejar data dari petani untuk diajukan mengikuti program AUTP di periode tanam ke II (Oktober-Maret).

“Kita sudah lakukan pendekatan ke kelihan subak, karena data petani yang masuk musim tanam periode Oktoer-Maret harus sudah masuk. Tapi terkadang Subak kurang tanggap, padahal kita hanya minta data nama petani dan luas lahan garapanya,” ungkap Ni Made Artini. (*) 

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved