Breaking News:

KPAI Sebut UN Bikin Anak Stres dan Depresi

Keputusan Mendikbud ini, dikatakan Maria, pasti akan menimbulkan pro dan kontra...

Editor: Irma Yudistirani
Ira Rachmawati / Kompas.com / Banyuwangi
Mobil keluaran 1980 milik Sumardi menjadi alat transportasi anak anak sekolah di Dusun Jayengan Kabupaten Banyuwangi. Satu mobil bisa berisi lebih 40 siswa 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganggap penghapusan UN dapat membantu pendidikan anak menjadi lebih baik.

"Kalau dari kami memang dari dulu UN itu sebuah proses yang banyak mendapat kritik dari masyarakat, sehingga KPAI pernah survei yang intinya masyarakat merasa bahwa UN itu tidak terlalu signifikan dalam membantu anak-anak mereka dalam pendidikan," kata Komisioner KPAI Maria Advianti, Sabtu (26/11/2016).

Keputusan Mendikbud ini, dikatakan Maria, pasti akan menimbulkan pro dan kontra.

UN sebagai standar kelulusan nasional sendiri telah menimbulkan banyak kasus seperti banyak anak yang stres, depresi bahkan hingga bunuh diri karena anak merasa takut dan tidak siap menghadapi UN.

Baca: Masih Wacana, Jokowi Tunggu Rapat Terbatas Jika UN Mau Dihapus

"Ada plus minus tapi kalau lihat berbagai kasus, berangkat dari banyak kasus, banyak anak stres, depresi bahkan bunuh diri karena menghadapi UN, jadi kami cukup bersyukur menteri punya perhatian dan hapus UN ini," ujar Maria.

Namun, apabila UN dihapuskan, pemerintah diharapkan menyiapkan konsep pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah harus menyiapkan sistem bagi generasi muda untuk siap menghadapi perkembangan teknologi informasi dan kapasitas ilmu pengetahuan bertaraf global.

"Tapi mudah-mudahan ada sistem yang lebih baik lagi jadi bukan sekadar tidak sekadar dihapus. Jadi tetap harus menyiapkan anak-anak kita untuk siap berkompetisi dalam era global," lanjutnya.

Sistem yang baru ini harus bisa meningkatkan pendidikan di seluruh daerah di Indonesia secara merata menjadi lebih baik.

Pendidikan yang baik diharapkan bisa mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia.

Menurut Maria, sistem yang sudah berbasis internet harus diimbangi dengan cara mengajar guru dan pendidikan akhlak di sekolah-sekolah.

"Momen ini harus dipikirkan bersama. Saat ini (pendidikan) di dunia sudah cukup jauh dengan literasi berbasis internet, ini sudah jadi kurikulum nasional sementara tidak ada guidance yang cukup agar siswa bisa mengambil informasi yang baik di internet. Sistem pendidikan ini yang harus dirubah, dari cara mengajar. Intinya konsep pendidikan perlu mengalami perubahan karena pendidikan kita masih aspek mikir saja," terangnya.

Dia berharap, Mendikbud akan merombak sistem pendidikan agar generasi muda bisa bersaing di dunia kerja dengan multiple skill dan etika yang baik.

"Harus ada visi yang panjang dari pemerintah karena pendidikan yang mengubah bangsa, mengisi wawasan dan keterampilan," tutupnya. (tribunnews/dtc/tribun bali cetak)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved