Breaking News:

Terkuak’ Pulang Bebaskan Sandera Abu Sayyaf, Mayjen Kivlan Zein Dituduh Makar!

Kivlan mengaku membantu menyelamatkan para sandera Abu Sayyaf di Filipina didasari aspek kemanusiaan karena WNI

Repro/Kompas TV
Kivlan Zen (kiri) selaku tim negosiator dari Indonesia berjabat tangan dengan pimpinan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Nur Misuari usai pembebasan tiga ABK Indonesia yang disandera kelompok pemberontak Abu Sayyaf sejak 9 Juli 2016 lalu, di Indanan, Sulu, selatan Filipina, Minggu (18/9/2016) pagi. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Mayjen (Purn) Kivlan Zein berperan sebagai negosiator dalam pembebasan para WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Ia ditangkap aparat setelah kembali ke Tanah Air.

Namun, dirinya mengaku tak kesal terhadap Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) lantaran ditangkap aparat gabungan karena dianggap akan melakukan makar pada aksi damai jilid III, Jumat (2/12/2016) lalu.

"Saya enggak kesal, saya ketawa aja. Ini dua hal yang beda. Soal penyelamatan WNI itu bukan saya ingin tunjukkan jasa saya. Saya berbuat begini lalu minta publik menghargai? Saya enggak perlu itu," kata Kivlan saat ditemui Tribunnews.com di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (3/12/2016).

Ia mengaku membantu menyelamatkan para sandera Abu Sayyaf di Filipina didasari aspek kemanusiaan karena WNI merupakan instrumen dari Bangsa Indonesia.

Tanpa bantuan pemerintah, ia masih merasa bertugas untuk melakukan penyelamatan WNI.

"Benderanya ya bendera kemanusiaan, tidak diminta oleh perusahaan apa-apa, ini inisiatif saya sendiri saya mau bebaskan mereka. Kalau mereka mau kasih hadiah, saya terima kasih. Kalau tidak, yah enggak apa-apa," kata Kivlan.

"Biar Joko Widodo atau Mega yang jadi presidennya, saya tak perhatikan itu. Yang penting, karena yang disandera itu karena orang Indonesia," katanya.

Sementara, untuk status makar, ia mengatakan tak malu lantaran menjadi target polisi karena masalah politik.

"Saya kerjakan supaya orang tahu bahwa pemerintahan sekarang tidak benar dan tidak adil," ujarnya.

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved