Endus Bau Busuk, Ternyata Ratusan Kilogram Kulit Babi Hutan Ilegal Hendak Dikirim ke Ubung

Ratusan kilogram kulit babi hutan ini diamankan karena tanpa dilengkapi dokumen resmi dari Balai Karantina.

Endus Bau Busuk, Ternyata Ratusan Kilogram Kulit Babi Hutan Ilegal Hendak Dikirim ke Ubung
Tribun Bali/I Gede Jaka Santhosa
Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Wilayah Kerja Gilimanuk sedang memeriksa bungkusan yang berisi kulit babi hutan ilegal, Selasa (6/12/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Wilayah Kerja Gilimanuk, Jembrana, Bali memeriksa 11 bungkusan yang berisi kulit babi hutan ilegal, Selasa (6/12/2016).

Ratusan kilogram kulit babi hutan ini diamankan karena tanpa dilengkapi dokumen resmi dari Balai Karantina.

Saat itu, sebuah bus AKAP Pahala Kencana bernomor polisi DK 9087 AF dicurigai petugas karena mengeluarkan bau busuk yang menyengat sewaktu diperiksa.

Saat dilihat dengan teliti, terdapat sebelas paket terbungkus karung plastik.

Saat dibuka isinya ternyata kulit babi hutan.

YH tak bisa menunjukkan sertifikat kesehatan resmi dari Balai Karantina Pertanian di daerah asalnya.

Setelahnya, sopir bus asal Kendal, Jawa Timur ini langsung digelandang bersama barang bukti ke Mapolsek Gilimanuk.

Kapolsek Gilimanuk, Kompol Anak Agung Gede Arka mengatakan, YH berdalih kulit babi hutan ilegal ini dititipkan oleh seseorang tak dikenal di Sukoharjo, Jawa Timur.

Barang tersebut recananya dibawa ke Terminal Ubung, Badung dan akan diambil oleh pemiliknya.

"Kasus ini masih kita kembangkan. Untuk barang-bukti dan sopir busnya sudah kita serahkan ke Balai Karantina Pertanian Gilimanuk untuk diproses sesuai aturan," tandas Arka.

Sementara itu, Penanggung Jawab Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Wilayah Kerja (Wilker) Gilimanuk, I Nyoman Budhiarta mengatakan, kulit babi hutan termasuk komoditi yang apabila dikirim ke antar pulau maka diwajibkan dilengkapi dengan sertifikat kesehatan resmi dari Balai Karantina di tempat asalnya.

"Diperkirakan didapat dari Sumatra karena populasinya di sana dan beratnya ini sekitar 770 Kg, dikemas dalam 11 paket. Kami masih menahan barang-bukti ini. Pemiliknya belum bisa dihubungi," tandas Budhiarta. (*)

Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved