Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nahas, Gempa Tewaskan Nas Sehari Sebelum Nikah, 23 Pengantar Pengantin Tertimbun

Gempa itu juga membuat anggota rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro) asal Padang, Sumatera Barat, menjadi korban.

Tayang:
Facebook

TRIBUN-BALI.COM - Gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter yang melanda sebagian Provinsi Aceh, Rabu (7/12/2016) pagi, membuyarkan rencana pernikahan Nas.

Pria berusia 40 tahun itu meninggal dunia akibat tertimpa bangunan toko tempat tinggalnya.

Padahal, dia direncanakan akan mengadakan pesta pernikahan di rumah calon istrinya di Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Kamis (8/12/2016) hari ini.

Nas tinggal di tokonya di pusat pertokoan di Meureudu, Pidie Jaya.

Keluarganya yang tersebar di beberapa kabupaten pun telah berdatangan ke tempatnya itu.

Mereka berkumpul dan menginap di tempat tinggal Nas di ruko tersebut.
"Informasinya Nas meninggal. Sayang, padahal besok (hari ini, red) dia menikah. Saya juga mendapatkan undangannya," kata seorang warga bernama Said Husen saat ditemui di lokasi, Rabu (7/12/2016).
Husen berjualan tidak jauh dari tempat tinggal Nas.

Dia bahkan sempat melihat ruko tersebut ambruk dalam hitungan menit.

Menurutnya, warga sekitar tidak dapat berbuat banyak karena listrik langsung padam ketika gempa terjadi.
Jenazah Nas telah dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan sekitar pukul 09.30 WIB kemarin.

Alat berat pun telah berada di lokasi untuk mencari korban lainnya.

"Toko yang ambruk sekitar 10 unit," ujar Husen.

Untuk diketahui, gempa berkekuatan 6,4 SR menghentak Aceh sekitar pukul 05.03 WIB kemarin.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di daratan, di kedalaman 15 km, tepatnya 18 km timur laut Kabupaten Pidie Jaya.

Kabupaten Pidie Jaya berjarak sekitar 200 kilometer dari Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh.

Sampai tadi malam, jumlah korban tewas setidaknya sudah 97 orang, luka berat 125 orang, dan luka ringan 411 orang. Jumlah korban terbanyak tercatat di Kabupaten Pidie.

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kerugian materiil akibat gempa ini adalah 163 rumah rusak berat, 105 ruko roboh, 14 masjid roboh, 1 sekolah roboh serta 1 RSUD roboh. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi. Diperkirakan masih ada korban yang terjebak di reruntuhan bangunan.

 Pakar kegempaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, gempa Aceh kemarin sangat tidak terduga.

“Sampai sekarang kita masih mencari sesar apa yang menjadi penyebabnya. Yang kami pahami bahwa sesudah gempa besar Aceh pada 26 Desember 2004, pelepasan energi dari gempa 2004 itu menimbulkan tegangan di daratan Aceh, sehingga terjadi gempa‑gempa kecil di daratan tersebut, termasuk gempa tadi Subuh," jelasnya.

Gempa itu juga membuat anggota rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro) asal Padang, Sumatera Barat, menjadi korban. Bangunan ruko tempat rombongan itu menginap roboh akibat digoyang gempa.

Rombongan linto baro berjumlah 23 orang itu menginap di sebuah ruko yang berjualan jam di pasar Kota Meureudu, Pidie Jaya.

Hingga tadi malam, proses evakuasi korban yang tertimbun ‎reruntuhan ruko dan material toko masih berlangsung. Pencarian sempat terhambat karena guyuran hujan deras pada sore hari‎. Belum diketahui pasti jumlah korban tewas atau yang selamat.

Pencarian dilanjutkan setelah hujan mereda, dengan melibatkan empat unit alat berat berupa backhoe.

"Yang saya ketahui jumlah orang yang menginap di toko tersebut 23 orang, termasuk linto baro. Saya tidak mengetahui nama linto baro. Tapi orangtua linto baro asal Padang, dan sudah lama tinggal di Kota Meureudu," kata Camat Meureudu, Mahdi, Rabu (7/12/2016) siang.

Napi Sempat Panik

Di Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan menjadi salah-satu dari 15 warga desa yang tewas akibat gempa itu.

"Almarhumah sedang hamil tujuh bulan," kata Sekretaris Desa Kuta Pangwa, Pijay Zulkifli dengan mata berkaca, sembari menunjuk jenazah korban yang terbujur kaku di antara belasan jenazah korban lainnya.

"Di desa ini saja korban yang meninggal keseluruhan 15 orang, satu di antaranya ibu hamil. Ada juga korban anak-anak, dan orang tua," kata Pijay lagi.

"Saya juga korban, kaki saya terkilir ketika menghindari runtuhan bagunan," ungkapnya sembari menunjukkan kakinya yang membengkak.

Para korban gempa yang meninggal rencananya dimakamkan dalam satu liang. Saat ini, warga setempat masih memandikan jenazah yang sudah evakuasi.

"Bantuan sudah datang dan kita sudah membuka dapur umum. Warga masih enggan kembali ke rumah dan takut terhadap gempa susulan," ujar Pijay.

Saat gempa terjadi pada pagi hari itu, para napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Benteng, Kota Sigli, Aceh, ribut sehingga suasana lapas sempat cukup kacau.

Beberapa bagian dari bangunan lapas dirusak oleh para napi, yang panik ingin keluar penjara karena khawatir terjadi tsunami yang menyusul gempa.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Komisaris Besar Rikwanto mengungkapkan, sempat terjadi kerusuhan di Lapas Benteng di Kecamatan Kota Sigli, Aceh, sesaat setelah gempa bumi mengguncang.

Gempa terjadi sekitar pukul 05.03 WIB berkekuatan 6,4 magnitudo.

"Tahanan sempat rusuh, namun sudah dikendalikan," kata Kombes Pol Rikwanto, Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Mabes Polri, kemarin.

Dalam peristiwa itu, imbuh Rikwanto, tidak ada narapidana yang melarikan diri.

"Kondisi napi lengkap. Anggota Polres dan TNI disiagakan di lapas," ujar Rikwanto.(tribunnews/kps/serambi/zar)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved