Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

‘Saya Minta Dibukakan Pintu Maaf’, Pengamanan Tiga Lapis untuk Sidang Ahok Hari Ini

Selain meminta maaf, Ahok pun melayangkan permintaan kepada para ulama untuk selalu mengingatkan dan membimbingnya di ibu kota.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berfoto dengan warga saat menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 Hijriah di Jakarta, Senin (12/12/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Calon gubernur (Cagub) DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali meminta maaf.

Kali ini permintaan maaf Ahok dikemukakan saat menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Masjid Al Huda, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (12/12/2016).

Baca: Terimakasih Ahok

Baca: Nyanyian ‘Tangkap Si Ahok’ Sambut Kedatangan Basuki Tjahaja Purnama di PN Jakarta Utara

"Tentu pada kesempatan ini saya juga sebagai manusia yang penuh kekurangan untuk para kiai, ustaz, alim ulama, yang hadir di tempat ini, juga ibu-ibu muslimat yang hadir, khususnya umat Islam seluruh Indonesia, saya minta dibukakan pintu maaf sebesar‑besarnya untuk saya," ujar Ahok.

Selain meminta maaf, Ahok pun melayangkan permintaan kepada para ulama untuk selalu mengingatkan dan membimbingnya di ibu kota.

Ahok lalu berterima kasih kepada semua warga yang telah mendoakan dan menasihati dirinya.

Ia pun meminta masyarakat untuk ikut berdoa jelang sidang perdana kasus dugaan penistaan agama yang menempatkannya sebagai terdakwa.

Sidang akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Selasa (13/12/2016) hari ini.

"Saya juga meminta didoakan besok dalam persidangan semua berjalan lancar, dimudahkan oleh Allah SWT," ucap Ahok.

Pada kesempatan itu, Ahok juga meminta para ulama untuk selalu mengingatkan dan membimbingnya.

"Bimbinglah saya, ingatkan saya, dan tuntunlah agar saya jadi gubernur yang amanah, yang sesuai sifat teladan Nabi Muhammad," ucap Ahok.

Ahok juga menceritakan nasihat ibundanya menjelang Pilkada DKI tahun 2012. Saat itu, kata Ahok, ibundanya menasihati agar Ahok selalu meneladani sifat Nabi Muhammad SAW saat menjadi pejabat atau pemimpin.

"Apa teladan itu? Kita jadi pejabat yang sidiq, yang benar, yang jujur. Kita harus jadi pejabat yang tabligh, selalu membawa kabar baik supaya anak‑anak semua bisa dikuatkan," ujarnya.

Ibunya juga berpesan agar Ahok menjadi pemimpin yang fathanah, cerdas dan terampil, yang mengedepankan keadilan sosial.

"Kita juga harus jadi pejabat yang amanah, yang bisa dipercaya. Kekuasaan yang diberikan bukan untuk pribadi, tapi tanggung jawab yang besar. Ibu saya selalu ingatkan untuk meneladani sifat Nabi Besar Rasulullah Muhammad," katanya.

Dalam acara tersebut, Ahok juga bercerita bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad sangat dikenalnya.

Sebab, dia lahir dan besar di Belitung Timur yang mayoritas beragama Islam.

Ahok juga menyinggung soal keluarga muslim yang mengadopsinya.

"Bahkan saya dari kecil diangkat anak oleh keluarga muslim, keluarga Bugis Bone," tuturnya.

Pada kesempatan itu, Ahok dan pasangannya, Djarot Saiful Hidayat, menikmati penampilan penyanyi religi Hadad Alwi yang menyanyikan beberapa lagu religi.

Pasangan nomor urut dua di Pilkada DKI 2017 itu menepuk‑nepukan tangan mengikuti irama musik. Keduanya tersenyum lebar.

Sesekali, Ahok dan Djarot memerhatikan anak perempuan yang menjadi teman duet Hadad Alwi. Bahkan, Djarot juga terlihat ikut melantunkan lagu, sambil sesekali mengacungkan dua jari. 

Seusai acara, Ahok menyatakan lagu‑lagu religi itu tak asing baginya. Sebab, dia lahir dan besar di lingkungan yang mayoritas beragama Islam.

"Lagu‑lagu qasidah kalau kata orang kampung itu, biasa kita dengar. Kalau di kampung kita ikut goyang sebetulnya, ikut goyang, dari kecil persis diajarin nyanyi lagu‑lagu gitu dari kecil," ujar Ahok.

Sejak kecil hingga menjabat sebagai bupati Belitung Timur, Ahok juga sudah terbiasa mengikuti acara maulid nabi. Ahok menyebut banyak keluarganya yang juga beragama Islam.

"Banyak keluarga yang muslim. Keluarga Bapak saya juga banyak yang muslim, keluarga dari pihak Ibu juga banyak yang muslim juga," katanya

Didampingi 80 Pengacara

Sekitar 80 pengacara bakal mendampingi Ahok pada persidangan kasus dugaan penistaan agama di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Ketua Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP Sirra Prayuna mengatakan, sekitar 80 orang pengacara itu akan mendampingi Ahok dan menyiapkan semua hal terkait proses persidangannya.

Ia menjelaskan, tim advokasi dibagi dalam dua bidang, yaitu tim litigasi yang bertugas mendampingi Ahok di setiap persidangan yang jumlahnya sekitar 10‑20 orang advokat, serta tim non‑litigasi sekitar 60‑an orang advokat.

"Kami terus matangkan persiapan tim hukum Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi persidangan perdana pada 13 Desember 2016 pukul 09.00 WIB, di PN Jakarta Utara di Jalan Gajah Mada, Jakarta," jelas Sirra.

Tugas tim non‑litigasi, jelas Sirra, adalah menghimpun berbagai informasi, data, dan fakta terkait peristiwa 27 September 2016 di Kepulauan Seribu. Juga, melakukan verifikasi dan validasi data, baik bukti surat tertulis, maupun keterangan saksi dan ahli.

Sirra menambahkan, tim non‑litigasi juga akan melakukan legal drafting yang akan mengkonstruksi fakta‑fakta persidangan untuk menyusun legal opinion.

Tim non‑litigasi juga melakukan processing persidangan yang bertugas menginput berbagai fakta‑fakta selama persidangan, yang akan dijadikan bahan analisis fakta dan analisis yuridis.

"Jumlah anggota tim yang hadir di persidangan, secara teknis kami sesuaikan dengan jumlah kursi yang disediakan oleh kepaniteraan Pengadilan Negeri," imbuh Sirra.

Sementara itu, Polri menyiapkan tiga lapis pengamanan saat persidangan kasus Ahok
"Akan dibuat pengamanan ring satu di dalam ruang sidang, ring dua di luar ruang siding, dan ring tiga di luar gedung pengadilan," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul, di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, Senin (12/11).

Menurut Martin, ada empat sasaran pengamanan agar sidang bisa berlangsung dengan aman dan tertib.

Pertama, penjagaan akan dilakukan terhadap semua orang yang hadir di lokasi, termasuk hakim, petugas pengadilan, serta saksi yang dihadirkan.
Sasaran kedua adalah lokasi yang ada di ring satu atau di dalam ruang sidang. Polri akan memperketat izin masuk ruang sidang.
Karena kapasitas ruangan hanya 80 orang hingga 100 orang, tidak semua pengunjung bisa masuk ke dalam ruang sidang.

Martin melanjutkan, sasaran pengamanan ketiga adalah benda-benda yang ada di lokasi, termasuk barang bukti dan alat-alat persidangan.

Keempat, anggota Polri harus menjamin persidangan berjalan dengan tertib.

Jika sewaktu-waktu ada gangguan, hakim dapat meminta personel polisi untuk memulihkan situasi keamanan.
"Semua yang terlibat harus dijamin keamanannya. Maka, akan ada kegiatan anggota Polri dalam pencegahan terjadinya keributan yang dapat mengganggu jalannya sidang," kata Martin.(gle/kps)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved