Tangani Lahan Kritis Dengan Budidaya Buah Naga, Kata Bupati Klungkung

Kita tentu tidak bisa memaksakan semua harus tanam buah naga. Tidak bagus juga kalau over supply.

Tangani Lahan Kritis Dengan Budidaya Buah Naga, Kata Bupati Klungkung
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta dan rombongan Pemkab Klungkung ketika melihat budidaya buah naga di Pantai Pandan Sari, Desa Gading Sari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogjakarta, Minggu (29/1/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Nusa Penida selama ini dikenal sebagai wilayah kering dan memiliki lahan kritis yang paling luas dari pada wilayah lainnya di Klungkung, Bali.

Berdasarkan data Pemkab Klungkung tahun 2016, lahan kritis pada lahan budi daya pertanian di Nusa Penida terhitung seluas 12.859,42 hektare dan tersebar di 15 desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Nusa Penida.

Terkait permasalahan tersebut, Pemkab Klungkung pun sudah siap untuk mengembangkan budi daya buah naga yang relatif cocok untuk kontur lahan kering seperti Nusa Penida.

"Terkait budi daya buah naga, kita bukan baru rencana lagi, tapi memang sudah siap kita lakukan. Hal ini mengingat tanah Nusa Penida banyak sekali kosong dan beberapa di antaranya tergolong kritis, sehingga saya kira masyarakat juga sangat berminat mengembangkan buah naga ini di lahan mereka," ujar Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, Senin (30/1/2017).

Menurut Nyoman Suwirta, buah naga sangat potensial dikembangkan hampir di seluruh wilayah Nusa Penida, karena mampu tumbuh dengan baik di tanah kering.

Pihaknya pun optimistis, masyarakat di Nusa Penida mau mengembangkan buah naga di Nusa Penida karena pola tanamnya sederhana dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

"Kita ajak petani Nusa Penida untuk mencoba membudidayakan buah naga di lahan kosong miliknya. Jangan kita target berapa hektare petani akan tanam, yang paling penting kita bangkitkan dulu semangat petani untuk kembangkan komoditi ini," kata Nyoman Suwirta.

Selain buah naga, Suwirta berharap komoditi lain, seperti bawang dan cabai juga dapat dikembangkan oleh petani di Nusa Penida.

Pihaknya pun telah menugaskan dinas terkait untuk mendata dan menyusun kalender yang menunjukkan kapan harga komoditi bawang atau cabai mengalami kenaikan harga.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi naiknya harga bawang dan cabai yang selama ini kerap terjadi di Klungkung.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved