Dharma Wacana

Bangun Kesadaran Sendiri, Jangan Permalukan Nyepi!

Secara umum, umat Hindu merayakannya dengan menerapkan Catur Bharata Penyepian.

Bangun Kesadaran Sendiri, Jangan Permalukan Nyepi!
TRIBUN BALI
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari Raya Nyepi merupakan tahun baru Hindu berdasarkan kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Nyepi ini merupakan peringatan kemenangan Suku Saka di India, dalam meredam pertikaian antar-suku di India.

Di Bali sendiri, hari besar tersebut jatuh hitungan tilem kesanga.

Secara umum, umat Hindu merayakannya dengan menerapkan Catur Bharata Penyepian.

Di antaranya amati gni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Hal tersebut menjadi sebuah bentuk simbol berakhirnya perang antar-suku.

Namun tidak dipungkiri, aplikasi dalam memperingati perayaan Hari Raya Nyepi ini cukup kreatif.

Diawali dengan Hari Pengerupukan, yang tidak bisa kita tampik, pada hari ini penuh dengan aktivitas-aktivitas butha kala.

Seperti berpesta makanan hingga minuman keras, selain itu juga adanya perang seperti perang api dan pawai ogoh-ogoh.

Sehari setelah itu, umat Hindu di Bali memperingati kemenganan melawan sifat bhuta khala tersebut dengan cara berdiam diri di rumah sembari menerapkan Catur Bharata Penyepian.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved