Takhayul Masyarakat Thailand Sebabkan 950 Koin Bersarang di Perut Penyu

Ratusan keping koin bersarang di dalam perut penyu hijau berkaitan dengan takhayul yang berkembang di dalam masyarakat Thailand.

Takhayul Masyarakat Thailand Sebabkan 950 Koin Bersarang di Perut Penyu
(Facebook/Nantarika Chansue)
Tim bedah hewan dari Chulalongkorn University's veterinary medical aquatic animal research center yang melakukan operasi untuk mengeluarkan koin-koin dari perut Bank si penyu hijau.

TRIBUN-BALI.COM, BANGKOK - Seekor penyu hiijau bernama Bank di Thailand harus menjalani operasi untuk mengeluarkan koin-koin dari perutnya.

Operasi itu dilakukan setelah hewan berusia 25 tahun itu menelan uang receh yang dilempar para pengunjung ke kandangnya demi mendapatkan keberuntungan.

Di Thailand, ada takhayul yang menyatakan bahwa melemparkan uang kembalian ke penyu akan membuat seseorang panjang umur dan mendapat keberuntungan.

Koin –koin yang ditelan oleh Bank tersebut membentuk massa seberat 5,5 kilogram di dalam perutnya, dan pada akhirnya menyebabkan keretakan pada karapas bawah perut Bank hingga menimbulkan infeksi.

Proses operasi perut penyu hijau (Facebook/Nantarika Chansue)
Proses operasi perut penyu hijau (Facebook/Nantarika Chansue)

Bank kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan hewan di Chulalongkorn University.

Lima ahli bedah hewan di sana berupaya mengeluarkan koin-koin yang sebagian besar sudah berkarat dari perut Bank, sementara hewan tersebut dibius total.

Jumlah koin yang berhasil dikeluarkan dari perut penyu hijau itu totalnya 915 keping.

Koin-koin yang berhasil dikeluarkan dari perut penyu hijau
Koin-koin yang berhasil dikeluarkan dari perut penyu hijau ((Facebook/Nantarika Chansue))

“Hasilnya memuaskan. Sekarang, tergantung pada Bank, seberapa cepat ia bisa pulih,” kata Pasakorn Briksawan, salah satu anggota tim bedah.

Penyu hijau bisa hidup cukup lama, dengan rata-rata rentang umurnya sekitar 80 tahun. Namun, spesies tersebut terdaftar sebagai “terancam” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Pasalnya, populasi penyu hijau di alam liar terus menyusut dan mengalami peningkatan risiko punah.

IUCN menyatakan, ancaman terbesar yang dihadapi oleh penyu hijau antara lain, pengambilan telur-telurnya, penyusutan habitat, dan penangkapan oleh nelayan.

Pemimpin tim bedah, Nantarika Chansue, sangat geram atas penyebab penderitaan Bank.

“Saya sangat marah dengan orang-orang itu. Tindakan mereka, yang entah tak disengaja atau tanpa dipikir terlebih dahulu itu, telah  membahayakan penyu ini,” katanya. (Lutfi Fauziah. Sumber: Live Science, Associated Press)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved