Subsidi Pembelian Gabah Tak Dapat Diterapkan di Bali

Pemerintah memberikan subsidi pembelian gabah sebesar Rp.3.700 per kilogram. Namun mengapa tak dapat diterapkan di Bali?

Subsidi Pembelian Gabah Tak Dapat Diterapkan di Bali
Tribun Bali/I Made Argawa
Pekerja di gudang Bulog Kediri memantau tumpukan beras. Bulog di Tabanan belum mampu serap gabah petani karena harga di pasaran diatas HPP 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Lebih tingginya harga gabah di tengkulak atau Perpadi membuat Bulog di Tabanan tidak maksimal melakukan serapan gabah.

Saat ini harga gabah di Tabanan mencapai Rp 4 ribu hingga Rp 4.500.

Baca: Serapan Gabah dan Beras di Tabanan Tak Maksimal

Kabid Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, Wayan Suandra, mengatakan gabah petani di Tabanan seluruhnya diserap oleh Perpadi (Perusahaan Penggilingan Padi). Sementara Bulog Bali belum bisa menyerap gabah di Tabanan karena masalah persaingan harga.

Tim Serapan Gabah Petani (Sergap) Mabesad (Markas Besar Angkatan Darat) mendatangi Gudang Bulog Kediri, Tabanan, Bali, untuk melakukan pantauan pencapaian serapan gabah Bulog.

Menurut Suandra, tujuan Mabesad adalah memantau sejauh mana serapan gabah dan beras di Tabanan

Ketua Tim Sergap Mabesad, Kolonel Inf. Agus Arif Fadila memaparkan, pemerintah memberikan subsidi pembelian gabah sebesar Rp.3.700 per kilogram.

Harga ini untuk membeli gabah di bawah kualitas sehingga petani tetap mendapatkan penghasilan.

“Hal ini tidak bisa diterapkan di Bali. Sebab, kualitas gabah di Bali tidak ada yang dibawah standar,” ujarnya.

Meski tidak memenuhi target, tahun ini Bulog Bali menyerap gabah dan beras di petani justru dibebani target lebih. 2017 target penyerapan beras di Bali oleh Bulog mencapai 11.500 ton dan gabah sekitar 23 ribu ton. Untuk Tabanan sendiri penyerapan beras meningkat dari 1200 ton menjadi 1700 ton. 

Mengenai penyerapan gabah maupun beras yang belum maksimal, perlu ada peningkatan dari Bulog serta sinergi dengan Perpadi seperti selama ini dilakukan.

Menurutnya peran Bulog sebagai perpanjangan pemerintah agar menjaga kestabilan harga pangan sehingga petani tidak merugi tetapi masyarakat juga bisa membeli pangan dengan harga terjangkau.

"Jika memang harga gabah maupun beras di petani di atas HPP tentu tidak boleh dipaksa untuk dibeli seharga HPP. Intinya Bulog harus tetap bersinergi dengan Perpadi sehingga menjaga kestabilan harga," ujarnya. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Penulis: I Made Argawa
Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved