Mengenang Pedagang Nasi Khas Bali Legendaris ‘Men Weti’, Tak Pernah Mengeluhkan Sakit, Hobinya Kerja

dari segi masakan, belum ada yang menandingi masakan Warung Men Weti, sehingga membuat orang yang sempat mencicipinya ketagihan.

Mengenang Pedagang Nasi Khas Bali Legendaris ‘Men Weti’, Tak Pernah Mengeluhkan Sakit, Hobinya Kerja
Tribun Bali/ I Wayan Erwin Widyaswara
Nyoman Sukadana alias Man Rame saat memperlihatkan warung ibunya,Men Weti, di Jalan Segara Ayu, Sanur, Denpasar, Selasa (4/4/2017) sore. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Air mata Nyoman Sukadana tak terbendung di Rumah Sakit Bali Royal Hospital (BROS) Denpasar, Senin (3/4/2017) sekitar pukul 22.10 Wita. Pria yang akrab disapa Man Rame itu tak kuasa menahan tangis begitu melihat orangtua angkatnya I Made Weti alias Men Weti menghembuskan nafas terakhir.

Seluruh keluarga hingga para cucu Men Weti bergegas hadir ke BROS kala itu dan ikut menangisi kepergian pedagang nasi khas Bali yang legendaris di Sanur, Denpasar, yang mampu menarik pelanggan hingga ke mancanegara itu. Semua keluarga Men Weti benar-benar berduka.

“Saya benar-benar tidak menyangka beliau akan meninggal. Soalnya sebelumnya tidak pernah cerita kalau sakit. Selalu dipendam. Makanya kemarin tiang gelur-gelur ngeling. Ten ngidang nanggang sebete. Samian nike ngelih pundag pandig. (Makanya kemarin nangis sampai teriak. Karena tidak bisa menahan sedih. Semua keluarga menangis keras),” tutur Man Rame kepada Tribun Bali di sekitar warung tempat Men Weti berjualan, Selasa (4/4/2017) siang.

Men Weti adalah sosok pedagang nasi legendaris yang berjualan di Jalan Segara Ayu, Sanur, Denpasar, tepatnya 50 meter dari bibir Pantai Sanur, Denpasar.

Jika kita masuk dari arah Jalan Raya By Pass Ngurah Rai, Denpasar, bakal terlihat plang Jalan Segara Ayu, lurus sampai mentok. Tepat di kanan jalan terlihat sebuah warung kecil nan sederhana. Di sanalah Men Weti berjualan. Masakannya begitu terkenal sejak tahun 1970-an. Adapun racikan per porsi  yang dijual di warung itu adalah Ayam Be Tutu, Sate Lilit, Telur Bumbu Tomat Pedas, Sayur Urap, Ikan Bumbu, Ubi Bumbu Cabai, Kacang Tanah Goreng, Kulit Ayam Goreng, dan Sambal Matah.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Men Weti rupanya telah beberapa kali masuk rumah sakit lantaran sesak nafas. Meski sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, namun Men Weti yang telah berusia 75 tahun itu tak pernah mengeluhkan sakit yang dideritanya kepada seluruh keluarga. Setiap ada keluarga yang menanyakan, Men Weti mengaku sehat-sehat saja.

“Sakitnya sudah sejak 6 bulan lalu. Sudah beberapa kali masuk rumah sakit. Dia tidak pernah bilang kalau sakit. Sama sekali tidak pernah bilang, misalnya, capek atau pengen istirahat. Maunya bekerja saja. Apa-apa selalu dipendam sama ibu saya,” tutur Man Rame.

Meski bukan ibu kandungnya, namun Man Rame lah yang mengaku paling dekat dengan Men Weti. Semua kegiatan sehari-hari Men Weti selalu ditemani oleh Man Rame. Pun begitu dengan Men Wati. Man Rame sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri.

“Saya anak tirinya Men Weti. Ceritanya bapak saya dulu punya istri empat. Saya anak ketujuh dari istri pertama. Men Weti adalah istri keempat bapak saya. Tapi antara semua keluarga, saya yang paling dekat dengan Men Weti,” ungkap pria berusia 53 tahun itu.

Begi Man Rame, Men Weti adalah sosok dewa. Sebab, ibu kandungnya sendiri ia akui tidak sebaik Men Weti. Waktu masih bugar, Man Rame benar-benar dikasihi, dan disayangi dengan penuh ketulusan. Perlakuan itu juga dilakukan oleh Man Rame kepada Men Weti. Itulah yang membuat hubungan keduanya begitu akrab.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved