Omzet Penjualan Gula di Bali Rp 4,5 Miliar Per Bulan

Di antaranya harga beli di distributor belum bisa mengejar Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai ketetapan Kementerian Perdagangan.

Omzet Penjualan Gula di Bali Rp 4,5 Miliar Per Bulan
tribunnews.com
Ilustrasi gula 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel (Aprindo) Bali, Gusti Ketut Sumardayasa mengaku, menerima banyak pertanyaan dari anggotanya yang sebagian besar peritel lokal.

Di antaranya harga beli di distributor belum bisa mengejar Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai ketetapan Kementerian Perdagangan.

“Contohnya pada produk gula branded yang tentunya harus dijual murah sesuai HET dan peritel merugi, karena distributor tidak mau ikut menanggung kerugian akibat selisih harga beli peritel di distributor dengan harga jual peritel di konsumen,” tegasnya saat ditemui Tribun Bali di Keramas Aeropark, Gianyar, Senin (10/4/2017).

Berdasarkan hasil pertemuan DPD Aprindo dengan Menteri Perdagangan pada 30 Maret 2017 lalu diterbitkan surat edaran atau Peraturan Menteri Perdagangan pada Jumat (31/4/2017).

Dalam aturan tersebut, per 10 April 2017 peritel wajib menjual gula dengan HET Rp 12.500 per kilogram (kg), minyak goreng kemasan 1 liter Rp 11 ribu, dan daging beku Rp 80 ribu per kg.

Jika tidak, maka peritel akan menerima sanksi denda Rp 25 miliar hingga terancam dicabut izin usahanya.

Wakil Ketua Aprindo Bali, AA Ngurah Agung Agra Putra menyebutkan, hal itu menjadi momok peritel lokal.

Menurutnya kebijakan mengenai HET gula membuat peritel merugi karena menjual gula lebih murah dari yang dibeli di distributor.

“Karena supplier cenderung tidak mau ikut menanggung kerugian atas stok gula yang ada di peritel,” kata dia.

Menurutnya, penghitungan di tataran peritel tidak bisa sesederhana dengan menghitung selisih.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved