Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Anies Cemberut di Balai Kota? Ahok Mengaku Tak Tahu

Saat ditanyakan perihal itu, Ahok mengaku tidak tahu dan tidak memperhatikan ekspresi Anies.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) berjabat tangan dengan calon Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) sebelum melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (20/4). Anies Baswedan yang unggul dalam hitung cepat pada Pemilihan Gubernur DKI 2017 putaran kedua mendatangi Balai Kota menemui Ahok untuk membahas rekonsiliasi antarpendukung agar tetap menjaga persatuan serta membahas program kerja. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Calon gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bertemu dengan pesaingnya Anies Baswedan satu hari setelah pemungutan suara hasil hitung cepat di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Dalam pertemuan rekonsiliasi tersebut, ada pembahasan yang menjadi pembicaraan banyak orang terutama netizen di media sosial, yaitu ekspresi cemberut Anies ketika itu.

Baca: 1.000 Karangan Bunga buat Ahok, Ngaku Patah Hati hingga Belum Move On

Baca: Bunga Papan dan Handbucket untuk Ahok-Djarot di Balai Kota Terus Bertambah, Kini 1.500

Banyak orang menduga, ekspresi cemberut Anies tersebut karena pesoalan APBD DKI yang disusun dengan sistem electronic budgeting (e budgeting) dan dikunci dengan password.

Saat ditanyakan perihal itu, Ahok mengaku tidak tahu dan tidak memperhatikan ekspresi Anies.

"Saya nggak tahu cemberut apa nggak. Tapi saya sampaikan. E-budgeting itu sistem, kalau nggak ada-e budgeting kamu juga susah," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Namun, menurutnya sistem e budgeting tidak dapat berjalan semestinya jika dalam pembahasannya mendapat tekanan dari pihak lain.

"Tapi sistem e budgeting juga gak ada gunanya kalau kamu takut ditekan. Masalahnya kaya kemarin 2015 kalau saya takut dipecat, pasti saya ikutin versi mereka. Bisa dimasukkan semua ke e budgeting. Yang ada UPS itu lho," kata Ahok.

Ahok menjelaskan, pihaknya memang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Indonesian Corruption Watch (ICW) dalam penggunaan APBD. Sehingga semua transaksi yang mengunakan APBD transparan.

"Dari dulu kita libatkan KPK, ICW segala macam. Lagipula anggaran DKI kita buka sampai satu botol minuman berapapun orang tahu. Makanya saya maksa harus transaksi non tunai. Kalau non tunai kita bisa lihat uangnya kemana. Dari siapa ke siapa," kata Ahok. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved