Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Terima Telepon dari Selingkuhan Suami, Apa yang Dilakukan Wanita Ini Bikin Haru

Benarlah kata orang, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan pria yang jahat hanya untuk wanita yang jahat.

net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Hati wanita mana tak hancur ketika mendapati sang suami bermain serong dengan wanita lain, apalagi jika wanita lain itu menelpon dan diterima langsung oleh istri.

Tapi tidak untuk wanita yang disamarkan dipanggil Indah ini. Dikutip dari Thereporter, Jumat (28/4/2017). Indah mempunyai hati yang luas dan karena itu ia merubah suaminya yang semula bermain wanita langsung tobat.

Begini ceritanya.

Benarlah kata orang, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan pria yang jahat hanya untuk wanita yang jahat.

Pernikahan saya tidak seindah yang saya impikan. saya berkenalan dengan suami dalam keadaan yang kotor, penuh dengan maksiat, narkoba dan dosa. Dunia kami saat itu begitu indah, bagaikan semuanya milik kami. Obat, arak, klub malam menjadi makanan harian kami.

Tiga tahun berlalu dengan cepat, kami akhirnya melangsungkan pernikahan. Dengan izin Allah, kami dikaruniai permata hati pertama.

Ya, saya begitu menyanyangi anak saya melebihi nyawa.

Sejak saat itu kehidupan yang semula begitu kotor, perlahan saya berubah.

Tapi suami masih sama, malah makin parah.

Suami hanya menemui saya ketika dia ada perlu. Jika tidak, dia tidak ingat dengan keluarga. Pukulan pun sering saya terima ketika suami pulang dalam keadaan mabuk.

Setelah beberapa tahun berlalu, saya melahirkan anak ketiga. saya mulai berhijab, suami sempat mengatakan jangan munafik jangan cuma dipakai seperti ‘hangat-hangat tahi ayam’.

Ada benarnya perkataan suami yang membuatku lebih istiqomah.

Saya makin hari makin makan hati melihat tingkah suami yang belum juga berubah. Kadang saya menangis apakah karena ini perbuatan saya di masa lalu.

Setelah enam tahun berlalu, saya mengandung anak keempat. Suatu malam Allah tunjukkan kuasaNya. Telepon seluler suami berbunyi dan tertera di layar ‘sayang’ call.

Saya menjawab dengan hati yang kosong. Tanpa rasa marah maupun dendam, suara perempuan yang terdengar.

Saya memberikan telepeon itu kepada suami, dia terdiam mungkin melihat ekpresi saya yang tak ada marah, tak ada sedih, dengan wajah biasa.

Bukan saya tak sedih, hati mana tak hancur melihat itu. Tapi saya memikirkan empat anak saya, saya ingin pisah sebenarnya.

Saya bilang saat itu.

“Buah hati kamu menelpon.”

Saya mengambil anak yang sedang bermain dengan suami. Tapi usai menelpon tak disangka suami datang dari belakang dan memeluk saya, dia sujud di kaki saya dan meminta ampun atas kesalahanya selama ini.

Jujur saja saya muak dan marah. Jika mengikuti emosi mungkin saya akan meminta dipulangkan kerumah, tapi saya memikirkan anak saya. Saya masih berharap suami bisa berubah jadi lebih baik.

“Tidak ada lagi kah sayang kamu kepada saya,” tanya suami saya sambil meminta maaf

Saya masih terdiam saat itu, menahan sakit saya tersenyum.

Baru kali itu saya melihat suami menangis begitu terguguh dan seperti begitu sakit, padahal saya tak bicara apa-apa.

Sejak saat itu, saya bersikap biasa. Tapi tidak dengan suami yang mulai berubah dan menjadi lebih baik. Mungkin itulah balasan untuk sabar, balasan untuk doa yang terus saya panjatkan. Kini suami menjadi lebih baik dan bisa menjadi imam shalat kami.

Terima kasih ya Allah. Sungguh besar hikmah atas segala kesabaranku. (*)

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved