Reklamasi Untuk Hotel Dan Restoran di Pelabuhan Benoa Dianggap Tidak Masuk Akal

Pelindo III membangun akomodasi pariwisata seperti perhotelan dan restoran dalam rencana pengembangan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi.

Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Lokasi pengembangan Rencana Induk Pelabuhan Benoa, Denpasar yang bakal dikembangkan, Kamis (27/4/2017). Di seputaran lokasi ini rencananya akan direklamasi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Anggota Komisi II DPRD Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana mengkritik rencana Pelindo III membangun akomodasi pariwisata seperti perhotelan dan restoran dalam rencana pengembangan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi.

Ia setuju jika pengembangan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi jika tujuannya agar kapal pesiar bisa bersandar, namun untuk pengembangan hotel dirinya tidak sependapat.

“Pengembangan pelabuhan adalah hal sangat baik. Tetapi pelabuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan turis mancanegara bukan pengembangan industri yang notabenenya sudah ada di masyarakat Bali sendiri,” ujarnya di Denpasar, Senin (1/5/2017).

Dikatakannya dengan adanya kabar pihak Pelindo menyiapkan anggaran sampai Rp 800 miliar untuk membangun hotel dan restoran adalah kebijakan yang tidak masuk akal.

Ini dikarenakan di wilayah Bali selatan sudah cukup hotel berbintang yang penuh sesak.

“Hotel dan restoran di sana fungsinya apa? Kalau di sana belum ada hotel dan restoran masuk akal. Tetapi di Bali sudah berkembang industri itu dan berlebih,” jelas politisi asal Puri Gerenceng, Denpasar, ini.

Ardhana yang juga sebagai Wakil Ketua PHRI Bali ini mengatakan, ia sudah pernah berkunjung ke tujuh pelabuhan di Eropa yang dibuat untuk mendukung industri tourism.

Dari tujuh pelabuhan tersebut tidak ada satupun yang isi hotel dan restoran.

“Kalau ada duty free, museum, menjual barang-barang unik Bali itu bolehlah. Saya ke Jenewa, Barcelona, Portugal, Madeira, Roma, semua gak ada. Ini lucu sekali seakan-akan mau bersaing dengan masyarakat,” kata politisi PDIP ini.

Oleh sebab itu ia mendukung reklamasi Pelabuhan Benoa sepanjang untuk kebutuhan umum dan bersandarnya kapal pesiar, bukan sebagai pelabuhan industrialisasi.

“Di Bali industri pariwisata sudah berkembang kalau dibangun di daerah yang akomodasi pariwisata belum berkembang bolehlah. Jangan nanti orang turun dari kapal pesiar masuk hotel di sana saja, pengembangan pelabuhan bukan untuk dimakan sendiri di sana, tetapi untuk masyarakat Bali. Jangan bertingkah anehlah,” ujarnya.

Sebelumnya General Manager Pelindo III Cabang Benoa, Ardhy Wahyu Basuki, pada saat presentasi di hadapan para pejabat Pemkot Denpasar, Jumat (28/4/2017) lalu, menyampaikan rencana pembangunan hotel, restoran, dan tempat hiburan megah di Pelabuhan Benoa.

Ia pun mengungkapkan alasan mengapa di kawasan Pelabuhan Benoa perlu dibangun fasilitas untuk para wisatawan.

Ardhy Basuki mengungkapkan, 40 persen dari wisatawan yang turun melalui kapal cruise di Benoa, adalah mereka yang sudah lanjut usia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved