Breaking News:

Siapa Saja Yang Menangkap Pembuang Sampah Sembarangan Di Desa Ini Dapat Rp 500 Ribu

Saat dibawa ke kantor desa, ia mengakui berniat membuang sampah di sekitar setra Desa Samsam.

Tribun Bali / I Made Argawa
Pengumuman Perarem (aturan adat) sampah oleh pengurus Desa Pakraman Samsam, Kerambitan, Tabanan, Bali di sekitar setra atau kuburan. Peraren itu dibuat karena banyak yang membuang sampah sembarangan. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Kesal dengan adanya orang yang membuang sampah sembarangan di sekitar area setra atau kuburan,  Desa Pakraman Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali membuat pengurus desa itu membuat Perarem (aturan adat).

Perarem berisi keputusan, bagi warga yang bisa menangkap orang yang membuang sampah sembarangan diberikan hadiah Rp 500 ribu.

"Tidak hanya bagi warga Desa Pakraman Samsam, siapapun yang bisa menangkap dapat hadiah. Yang membuang sampah dikenai denda Rp 5 juta," kata Ketua Pecalang Desa Pakraman Samsam I Dewa Nyoman Triasa, (4/5/2017).

Pria yang juga menjadi Wibaga Pawongan (pengurus desa pakraman) Desa Pakraman Samsam itu menyebutkan, pada hari Rabu (3/5/2017) sekitar pukul 23.00 wita ada seseorang yang dicurigai akan membuang sampah di sekitar area setra Desa Samsam.

Orang itu diketahui tinggal di sekitar Banjar Lumajang, Samsam, Kerambitan.

"Orang tersebut sudah membawa sampah dengan mobil Carry pick up, ketika berada di sekitar setra, sempat dilihat oleh warga kami. Setelah dicarikan pecalang, orang itu kabur, namun masih ada sisa sampah di tempat itu," katanya yang akrab disapa Komang Gami.

Esok harinya pada Kamis (5/4/2017) orang yang diduga akan membuang sampah itu berhasil ditemukan.

Saat dibawa ke kantor desa, ia mengakui berniat membuang sampah di sekitar setra Desa Samsam.

"Pengakuannya hendak membuang sampah. Saat akan membuang sempat ditelepon saudaranya dan diberitahu tidak boleh membuang sampah di sekitar area setra," ujarnya. 

Karena tidak jadi membuang sampah, ia tidak dikenai sanksi oleh pihak adat, hanya diminta membersihkan sampah yang sempat tercecer. "Kami hanya minta untuk membersihkan sisa sampah saja," jelasnya.

Sekretaris desa Samsam, Made Adi menyebutkan, sebelum adanya perarem desa terkait sampah pihaknya cukup sulit mengatasi masalah itu.

Lantas pihak desa dinas bersama desa adat sepakat mencari orang untuk melakukan pengangkutan sampah langsung ke TPA Sampah Sembung Gede.

"Setelah adanya petugas angkut yang dibayar dari iuran warga sebesar Rp 20 ribu, pihak desa adat lantas membuat perarem pada Januari 2017," jelasnya.

Ia menyebutkan, sebelum adanya perarem di sekitar area setra banyak yang membuang sampah secara diam-diam.

Jalan menuju setra Desa Samsam adalah jalur berkelok dan jadi bagian jalur Baypass Denpasar-Gilimanuk.

Setelah adanya shortcut penyalin jalan itu saat ini hanya jadi tempat parkir truk.

"Dulu sebelum ada perarem, banyak yang buang sampah di sana secara diam-diam, mirip TPA sampah. Jika warga adat Samsam buang sampah sembarangan akan kena peringatan," jelasnya. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali

Penulis: I Made Argawa
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved