Megaproyek Pasar Badung Terancam Gagal Tender, Nasib Kaum Pedagang Relokasi Kian “Menjerit”

Bagaimana enggak susah, dari pagi sampai malam bisa dapat garus cuma satu gulung kasa tok, gimana cara hidup dan bayar hutang di bank, di koperasi

Megaproyek Pasar Badung Terancam Gagal Tender, Nasib Kaum Pedagang Relokasi Kian “Menjerit”
Tribun Bali/ Rizal Fanany
Suasana relokasi pedagang Pasar Badung di gedung Eks Tiara Grosir di Jalan Cokroaminoto, Denpasar, Bali, Minggu (1/5/2016). Mulai kemarin seluruh pedagang mulai berjualan di Eks Tiara Grosir. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Luh Karmiasih, salah satu pedagang Pasar Badung yang berjualan di Eks Tiara Grosir (tempat relokasi), Jalan Cokroaminoto, Denpasar hanya bisa duduk merenung di atas kursi tempatnya berjualan, Sabtu (13/5/2017) sore.

Pedagang alat-alat kelengkapan upacara agama, ini mengaku semenjak berjualan di Eks Tiara Grosir penghasilannya turun drastis.

Bahkan, dari pagi hingga malam ia sering hanya mendapat jualan satu item dagangan saja. Begitu mendengar proyek Pasar Badung gagal tender, perempuan berusia 37 tahun ini langsung menggerutu.

“Aduh bagaimana ini cara saya hidup kalau begitu. Berarti masih lama baru bisa jualan di sana. Waktu di sana saya rutin bayar iuran baik perbulan per tahun. Di sini saya bayar iuran per hari saja susah. Bagaimana enggak susah, dari pagi sampai malam bisa dapat garus cuma satu gulung kasa tok, gimana cara hidup dan bayar hutang di bank, di koperasi,” cerita Karmiasih yang menuturkan kegelisahan, dan deritanya saat berjualan di Eks Tiara Grosir.

Berkali-kali, pedagang yang tinggal di Padangsambian, Denpasar, ini berucap agar pembangunan Pasar Badung segera dilakukan agar semua pedagang yang ia anggap senasib bisa mendapatkan akses berjualan yang lebih baik.

“Saya tidak ngerti masalah lelang-lelang proyek, pokoknya kami sudah tidak tahan di sini, supaya cepat bisa jualan di Pasar Badung. Kalau bisa diusahakanlah biar cepat. Kami senasib semuanya,” kata Karmiasih.

Tak hanya Karmiasih, pedagang lain, Ida Ayu Rai Kerti mengaku kesulitan bayar hutang di Bank dan di Koperasi karena pembeli di Eks Tiara Grosir sangat sedikit bahkan ia sempat tidak mendapatkan garus. Ia pasrah dan hanya bisa melamun di areal dagangannya.

Saking sepinya pembeli di Eks Tiara Grosir, ada sejumlah pedagang yang mendapat tempat di bagian belakang harus menutup kiosnya, dan memilih jualan keliling.

Di dalam kiosnya diisi tulisan, “Mohon maaf, kami lagi nyeles.” Pemilik kios yang sempat diwawancara mengaku dirinya harus nyeles keliling areal pasar karena sempat berhari-hari tidak mendapatkan pembeli sama sekali.

Itu sebabnya, agar mendapatkan pembeli, dia terpaksa merelakan kakinya untuk berjalan kaki keliling untuk menawarkan setiap pedagang, dan setiap pembeli yang ada di Eks Tiara Grosir. (*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved