Tokoh Seniman Klungkung Suarakan Kekecewaannya Soal Monumen Puputan Kusamba

I Nyoman Gunarsa selaku tokoh seniman di Klungkung mengaku kecewa dan sangat menyayangkan hasil pembangunan monumen

Tokoh Seniman Klungkung Suarakan Kekecewaannya Soal Monumen Puputan Kusamba
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Seorang warga tampak memperhatikan bangunan monumen puputan Kusamba yang dibangun di areal Pasar Kusamba, Selasa (6/6). Pembangunan monumen tersebut menjadi sorotan banyak pihak karena dianggap kurang relevan untuk sebuah monumen. 

TRIBU-BALI.COM, SEMARAPURA - Maestro seni I Nyoman Gunarsa duduk bersantai di teras museum miliknya ketika ditemui Tribun Bali, Selasa (6/6/2017).

Sembari tersenyum, ia menyampaikan unek-uneknya tentang monumen perang puputan Kusamba yang baru selesai di bangun oleh Pemkab Klungkung.

I Nyoman Gunarsa selaku tokoh seniman di Klungkung mengaku kecewa dan sangat menyayangkan hasil pembangunan monumen tersebut yang menurutnya terlalu kecil dan kurang gagah jika disebut sebagai monumen perjuangan.

“Kalau dari perspektif seniman seperti saya, Monumen perang puputan Kusamba kurang monumental. Harusnya gagah untuk menyimbolkan masyurnya perjuangan masyarakat Kusamba. Tapi lihat saja sekarang, monumen perjuangan kok cebol gitu? . Saya sebagai masyarakat Klungkung kecewa, saya yakin banyak masyarakat yang kecewa dengan monumen itu,” Ujar Maestro I Nyoman Gunarsa sembari tertawa

Awalnya Gunarsa menyebut jika monumen yang dibangun untuk mengenang tragedi perang puputan Kusamba tersebut dianggarkan oleh pemerintah sekitar Rp.500 Juta dengan bahan batu andesit.

Dibenaknya pun, monumen tersebut akan berdiri gagah selayaknya monumen perjuangan pada umumnya. Namun kenyataannya terbalik 180 derajat. Monumen perang puputan Kusamba berdiri tidak sesuai harapannya.

Monumen tersebut memiliki tinggi sekitar 2,5 meter, dengan pondasi yang berada di bawah trotoar. Selain itu, menurut Gunarsa relief monumen tersebut juga tidak jelas.

“ Monumen harusnya gagah dan tidak terpengaruh dengan bangunan disekitarnya. Tapi kalau Monumen Puputan Kusamba, kaki pondasinya lebih rendah dari trotoar. Balum lagi reliefnya tidak jelas mana pejuang, dan mana pasukan Belanda. Saya jujur sebagai seniman, sangat menyayangkan ini,” Ungkapnya

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Klungkung, I Wayan Wirata menjelaskan, pembangunan Monumen perjuangan perang puputan Kusamba menghabiskan anggaran hingga Rp. 360.167.000.

Ia menyebut, realisasi bangunan monumen tersebut sudah sesuai dengan gambar perencanaan.

“Pembangunan monument tersebut sudah sesuai dengan perencanaan. Memang direncanakan tinggi munumen tersebut 2,5 meter. Kita juga awalnya ingin trotoar dibobok,tapi situasi dilapangan jadinya memang seperti itu,” Jelas Wirata ketika dikonfirmasi, Selasa (6/6/2017)

(*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ady Sucipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved