Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Seimbangkan Ekosistem, Kelompok TUUT Lepas 11 Ekor Burung Hantu di Tabanan

Kelompok konservasi burung hantu di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali kembali melepas 11 ekor burung hantu ke alam

Penulis: I Made Argawa | Editor: imam rosidin
Tribun Bali
Kelompok TUUT memperlihatkan burung hantu yang akan dilepas (18/7). Pada kesempatan itu TUUT melepaskan 11 ekor burung hantu ke alam dari hasil konservasi. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Kelompok konservasi burung hantu di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali kembali melepas 11 ekor burung hantu ke alam.

Kegiatan tersebut dimotori oleh Tyto alba Uma wali Untuk Tani (TUUT) pada Selasa (18/7) sekitar pukul 14.30 wita.

Ketua kelompok TUUT Banjar Pagi, Kadek Jonita menyebutkan burung yang dilepas adalah hasil penetasan serta pemberian masyarakat.

“Ini adalah kali ketiga kami melepas secara seremonial, selain itu biasanya sering dilakukan jika ada burung di penangkaran dan siap terbang,” katanya.

Pria berambut gondrong itu menerangkan, pelepasan secara seremonial dilakukan agar masyarakat mengetahui jika burung hantu penting untuk dijaga.

Ia menyebut, saat ini pihaknya masih memiliki seekor burung lagi dari Desa Tunjuk yang dibawa pada hari Minggu (16/7) karena mengalami luka pada sayap disebabkan tali layangan.

“Banyak masyarakat yang memberikan burung untuk dirawat,” ujarnya.

Sementara untuk pengawasan burung hantu yang telah dilepas ke alam, hanya mengandalkan informasi dari masyarakat.

“Saat ini di Subak Ganggangan ada 14 rumah burung hantu (Rubuha),” kata Jonita.

Selain di subak Ganggangan, pihaknya juga mendapat respon baik dari subak sekitar terkait dengan pelestarian burung hantu sebagai musuh alami bagi hama tikus di lahan pertanian.

“Rencana kedepan kami akan melakukan pelepasan burung di Subak Pacung,” terangnya.  

Burung hantu yang dilepas oleh TUUT rata-rata berusia sekitar delapan bulan. Jonita memaparkan burung hantu jenis Tyto alba sudah bisa berproduksi ketika usianya sudah di atas setahun.

Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana menerangkan, pihaknya mengapresiasi pihak-pihak yang ikut menjaga pertanian seperti memberdayakan burung hantu.

Untuk pelepasan burung yang dikenal juga dengan nama Serak Jawa itu pihaknya pernah melakukan pada 2002 dua pasang, pada 2015 empat pasang dan 2016 berencana melepas dua pasang, namun burungnya meninggal.

 “Dengan ada upaya konservasi dari masyarakat, kami akan usulkan pada pimpinan (bupati red) untuk anggaran dana penyediaan Rubuha,” ujar Budana. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved