150 Ekor Tukik Menetas di Pantai Kubur, Warga Kebingungan
Ratusan telur penyu yang diselamatkan warga di Pantai Kubur, Desa Ketewel, Sukawati, Gianyar, Bali dari gangguan anjing liar akhirnya mentenas, Rabu
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: imam rosidin
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Ratusan telur penyu yang diselamatkan warga di Pantai Kubur, Desa Ketewel, Sukawati, Gianyar, Bali dari gangguan anjing liar akhirnya mentenas, Rabu (2/8/2017).
Namun demikian, saat ini warga setempat kebingunan mencari tempat aman untuk membesarkan tukik tersebut.
Pasalnya, warga tidak berani langsung melepas ke laut lantaran ombak relatif ganas.
Pantauan Tribun Bali di Pantai Kubur, warga setempat tampak sibuk menggali pasir di seputaran pantai. Mereka ingin memastikan tidak ada tukik yang tertinggal.
Setelah terkumpul, tukik itu ditaruh di dalam ember. Rencanya akan dilepas ke laut setelah ombak relatif tenang.
Warga setempat, I Nyoman Rawin mengatakan, total jumlah tukik tersebut mecapai 150 ekor.
Pihaknya mengaku bersyukur lantaran baru pertama kali ada tukik yang menetas di sana.
“Tapi kami bingung, kalau langsung di lepas ke laut, ombaknya sedang ganas. Takutnya tukik terhempas lagi ke pesisir dan jadi santapan anjing liar,” ujarnya.
Menurut Rawin, selain takut terhempas ke pesisir, tukik itu tidak dilepaskan ke laut lantaran kondisinya masih lemah.
Karena itu, untuk sementara waktu tukik ditaruh di ember.
“Kalau kami langsung lepas pasti mati. Untuk sementara kami tapung di ember. Kami juga sudah lapor perbekel agar dicarikan petugas konservasi hewan laut,” ujarnya sembari menenteng ember berisi tukik.
Tidak berselang lama, Pengelola Penetasan Kura-kura Saba Asri, I Made Kiki mendatangi lokasi.
Dia mengapresiasi langkah warga yang tidak langsung melepas tukik ke laut.
Menurut dia, tukik yang baru lahir belum siap dilepas ke laut karena membutuhkan pemerilahaan sekitar satu minggu.
“Harus dipelihara seminggu, setelah itu harus dilepas agar segera bisa beradaptasi dengan lingkungan aslinya, agar dia bisa bertahan hidup. Untuk pemeliharaannya kami akan ambil alih,” ujar Kiki.
Sebagai upaya mengapresiasi warga setempat yang sadar akan kelestarian peyu, pihaknya memberikan harga untuk masing-masing tukuk.
“Ini untuk memotivasi supaya mereka sadar bahwa tukik itu sangat penting. Dan, langkah yang dilakukan warga selama ini, bia terus dilanjutkan,” tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tukik_20170802_165136.jpg)