Krisis Air Bersih, Warga Seraya Timur Terpaksa Tempuh Jalan Terjal Demi Mencari Seember Air

Ini terpaksa mereka lakukan. Sebab, beberapa sumber air di Seraya Timur sudah kering. Hanya Tukad Buah sumber air yang tersisa satu-satunya.

Krisis Air Bersih, Warga Seraya Timur Terpaksa Tempuh Jalan Terjal Demi Mencari Seember Air
Tribun Bali/Saiful Rohim
Warga mengantre mencari air bersih di Tukad Buah, Banjar Dinas Tukad Buah, Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem, Selasa (22/8). 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Waktu menunjukkan pukul 11.00 Wita, Ni Made Mendri (38), bergegas mengambil embernya. Warga Banjar Dinas Tukad Buah, Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem ini kemudian berjalan menuju Tukad Buah, Selasa (22/8).

Ia ke sana hanya untuk mencari air bersih. Mendri melintasi terjalnya akses jalan rusak ke Tukad Buah. Jarak tempuh yang begitu jauh dilewati seorang diri. Untuk memperoleh air, Mendri harus mengantre hingga satu jam lamanya.

Made Mendri bersama warga lainnya ke Tukad Buah setiap pagi dan sore hari. Ini terpaksa mereka lakukan. Sebab, beberapa sumber air di Seraya Timur sudah kering. Hanya Tukad Buah sumber air yang tersisa satu-satunya.

”Sumber air kering sejak dua pekan lalu. Kami semua sangat kesulitan mendapat air bersih,” kata Mendri.

Ia menjelaskan, kekeringan di Desa Seraya Timur terjadi sejak pertengahan Agustus hingga melanda warga Seraya Timur. Daerah yang paling merasakan adalah Banjar Dinas Tanah Barak, Banjar Bukit Catu, Ting Jalas, dan Tukad Buah.

“Cadangan air di rumah sudah habis. masak, nyuci, dan minum dan segala hal yang membutuhkan air sulit untuk kami lakukan. Untuk makan dan minum saja, warga terpaksa membeli air,” ungkapnya.

Perbekel Seraya Timur, I Made Pertu mengatakan, warga yang kesulitan peroleh air bersih mencapai 470 Kepala Keluarga (KK). Mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan seharinya. 100 KK tinggal di Banjar Bukit Catu, 170 KK tinggal di Tanah Barak, 130 di Ting Jalas, dan 70 KK di Tukad Buah.

Warga yang berada di empat banjar tersebut belum teraliri air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) lantaran lokasinya berada  di atas  pegunungan.

”Ada warga Bukit Catu menghubungi, dia mengaku kekurangan air bersih. Cadangan air hujan di rumah warga habis,” kata Pertu.

Rp 4.000 Satu Jeriken

Kesulitan memperoleh air bersih membuat warga terpaksa membeli air. Harganya tergolong mahal, Rp 4.000 setiap satu jeriken.

Air tersebut digunakan seirit-iritnya demi kebutuhan sehari. Biasanya, satu jeriken air bersih bisa digunakan untuk air minum selama dua hingga  empat hari.

Warga terkadang juga membeli air satu tangki air bersih secara urunan. Harga air per tangki mencapai sekitar Rp 300 ribu.

Air pertangki digunakan untuk satu minggu lebih. Biasanya penjual air datang sepekan tiga kali ke Desa Seraya Timur. Penjual menyisir Banjar yang berada di atas pegunungan.

“Kalau keperluan mendesak seperti upacara, kita pasti usulkan ke Dinas Sosial dan PDAM Karangasem. Air itu tidak untuk keperluan pribadi, tapi untuk kegiatan upacara di Desa Seraya,”ungkap Made Pertu. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved