Babi dan Streptococcus Meningitis di Bali

Sangat disayangkan pemasukan babi jenis baru ini, membawa beberapa penyakit yang sebelumnya tidak dikenal di Bali

Editor: Ady Sucipto
Tribunnews
Ilustrasi babi. 

Tidak lama kemudian, ditemukan pula kematian sejumlah  monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Sangeh, Monkey Forest Ubud dan Alas Kedaton. Dari monyet tersebut diisolasi bakteri yang sama yakni S. zooepidemicus.  

Penyidikan di Sangeh mengungkapkan bahwa di bagian Utara Sangeh ada warung babi guling. Limbah pemotongan babi dari warung itu dibuang ke kali yang melewati Sangeh. Tentu saja monyet yang mencari minum di kali bisa tertular. Penularan ke monyet menggambarkan bahwa kita berhadapan dengan penyakit zoonosis.

Tikus putih kecil (mice) yang ditulari secara buatan dengan suspensi  S.  zooepidemicus mengalami kelumpuhan kaki belakang, sehingga diseret apabila berjalan. Secara histopatologi, pada selaput otak (menigen) babi, monyet dan tikus ditemukan peradangan yang dikenal sebagai meningitis. Dapat diprediksi, apabila penyakit ini menular ke manusia, akan menimbulkan meningitis juga.

Temuan bakteri baru ini telah diteguhkan oleh Prof. Dr. I Wayan Wibawan Dan Prof. Dr. Fachriyan Pasaribu, ahli mikrobiologi FKH IPB Bogor, yang mendalami streptococcosis di Jerman. Seorang staf pengajar FKH UNUD Dr. Iwan H. Utama, juga mendalami lebih lanjut streptococcus ini, sehingga memperoleh gelar doktor di IPB. Sekarang beliau sudah bergelar Profesor.

Untuk mendapatkan daging yang sehat, sebenarnya pemerintah menyediakan rumah pemotongan babi (RPB). Sebelum dipotong, babi menjalani pemeriksaan ante mortem oleh petugas terlatih.

Setelah dipotong, ada pula pemeriksaan post mortem. Hanya daging yang dinilai sehat akan lolos  ke pasar. Babi yang baru saja diobati dengan antibiotika, harus ditunda pemotongannya (withdrawal time) selama 2 minggu, agar residu antibiotika dalam daging hilang, sehingga aman bagi konsumen.

Sangat disayangkan banyak babi dipotong di luar RPB, dengan alasan penghematan biaya. Masyarakat baru panik setelah ada orang yang tertular penyakit serius akibat makan makanan berbahan daging babi.

Pemanfaatan  dokter hewan praktek untuk memeriksa babi apabila ada pemotongan babi dalam jumlah banyak menjelang hari raya, bisa mengurangi kemungkinan penularan zoonosis.

Meningitis Streptococcus suis (MSS)

Pada bulan Maret 2017, ditemukan 43 pasien yang diduga menderita MSS di RSUD Mangusada, Badung. Pasien ini mempunyai sejarah pernah makan lawar merah, yang mengandung darah segar babi. Penyebab MSS diidentifikasi sebagai Streptococcus suis.

Penyebab ini beda species, namun masih satu genus dengan streptococcus yang ditemukan tahun 1994. Meskipun species penyebab penyakit berbeda, gejala kedua penyakit  ini pada  babi sulit dibedakan.

Antibiotik yang dipakai pengobatan kedua penyakit ini, sama. Beda pada pemeriksaan laboratorium yang menyolok yaitu S. zooepidemicus termasuk dalam Lancefield grup C, sedangkan S. suis, grup D.

Sebenarnya MSS bukan penyakit baru. Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, diagnosis MSS pernah terjadi di Bali sebanyak 10 kasus (2015) dan 26 kasus (2016). Besar kemungkinan penyakit ini akan muncul lagi, terutama pada babi. Meskipun demikian, penularan ke manusia mudah dihindari asalkan makanan yang berbahan babi dimasak dengan baik. Bakteri Streptococcus sp mudah mati lewat pemanasan. (*)

Drh. Soeharsono DTVS PhD

Mantan Penyidik Streptococcosis pada babi

Tinggal di Jimbaran, Badung

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved