Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Soal Aksi Demo Terkait Rohinghya di Candi Borobudur, Tito: Aksi Borobudur Dilarang!

Sejumlah organisasi masyarakat berencana menggelar demonstrasi aksi bela muslim Rohingya dalam bentuk Gerakan Sejuta Umat Muslim

Editor: Ady Sucipto
Tribunnews/Jeprima
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian saat melakukan konferensi pers di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (26/5/2017). Kapolri menjelaskan terduga pelaku bom bunuh diri kampung Melayu adalah jaringan teroris jamaah Anshorut Daulah (JAD) dua pelaku itu ternyata satu jaringan dengan JAD Bandung. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian melarang unjuk rasa di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Sejumlah organisasi masyarakat berencana menggelar demonstrasi aksi bela muslim Rohingya dalam bentuk Gerakan Sejuta Umat Muslim Mengepung Candi Borobudur, Jumat (8/9/2017).

Aksi bertujuan untuk mendesak penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Myanmar.

Namun, Kapolri sudah menginstruksikan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono untuk tidak memberikan izin terhadap aksi tersebut.

Baca: Beredar Kabar FPI Akan Gelar Demo di Candi Borobudur, Polri Tegaskan Tak Akan Beri Izin

"Aksi Borobudur dilarang! Saya perintahkan Kapolda Jateng, jangan memberi izin," ujar Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (5/9/2017).

Tito dengan tegas mengatakan, Candi Borobudur merupakan lokasi tujuan wisata Indonesia dan tempat bersejarah yang harus dijaga kelestariannya.

Tito mengatakan, kasus penindasan terhadap etnis muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.

"Di sini Walubi dan kelompok pengurus Buddha sudah mengeluarkan sikap keras, mereka mengecam pemerintah Myanmar dan memberikan bantuan ke Rohingya," ujar Tito.

Tito meminta kepada masyarakat waspada dengan isu yang tersebar luas di Indonesia.

Sebab, isu permasalahan kemanusiaan etnis Rohingya, malah digunakan untuk memanas-manasi sentimen masyarakat Islam di Indonesia.

"Saya minta masyarakat lebih waspada. Isu ini lebih banyak digunakan untuk membakar sentimen masyarakat Islam di Indonesia untuk antipati kepada pemerintah," ujar Tito. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved