Setelah 50 Tahun, Desa Pakraman Tegallalang Kembali Gelar Ritual Tawur Pedanan

Para pengayah itu merebut pipil atau hadiah utama berupa uang sebesar Rp 500 ribu, sampai Rp 1 juta yang disembunyikan di antara bagian bangunan itu.

Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Berebut-Para pengayah berebut mencari pipil (hadiah) dalam ritual Tawur Pedanan di Lapangan Pura Dalem Kauh, Desa Pakraman Tegalalang, Sabtu (9/9). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Air tirta mulai dipercikkan. Gambelan baleganjur pun mulai bergemuruh di tengah ribuan pemedek yang mengitari kalangan.

Kegiatan itu merupakan tanda ritual Tawur Pedanan segera dimulai yang digelar di Lapangan Pura Dalem Kauh, Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar, Sabtu (9/9) siang. Tujuh sulinggih yang sudah selesai muput mempersilakan Tawur Pedanan dimulai.

"Satu, dua, tiga, yak.............!" teriak pengenter karya melalui pengeras suara. Bersamaan dengan arahan itu, sejumlah pengayah berlari sambil berteriak “Ciaaat..!” dari luar kalangan menuju bale pedanan yang telah disiapkan.

Para pengayah itu merebut pipil atau hadiah utama berupa uang sebesar Rp 500 ribu, sampai Rp 1 juta yang disembunyikan di antara bagian bangunan itu. Selain uang, ada berbagai peralatan rumah tangga, dan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya yang disediakan.

Gambelan baleganjur semakin keras terdengar. Para pengayah yang ikut merebut pipil itu pun semakin banyak menggerogoti satu per satu pipil yang disediakan. Dalam sekejap, sebagian pipil  ludes. Bahkan, pipil yang diikat kuat di bale itu bisa mereka tarik sambil menggoyangkan bale itu.

Saking semangatnya, bale pedanan pun sampai roboh. Meski ada yang sedikit luka ringan, semangat para pengayah tak juga padam lantaran pipil yang berisi uang belum ditemukan. Para pengayah kemudian membongkar satu per satu bahan bale pedanan itu untuk terus mencari pipil utama.

“Ainggih majeng ring pare pengayah sami niki wenten jinah limangatus, pitungatus, miwah satu juta niki. Rarisang. (Ainggih, kepada para pengayah semuanya, di sana ada pipil yang berisi uang Rp 500 ribu, Rp 700 ribu, dan satu juta rupiah, silakan dicari,” ucap pengenter acara menyemangati para pengayah.

Setelah berjibaku, akhirnya beberapa di antara pengayah itu menemukan pipil yang disembunyikan. Mereka adalah pengayah dari Desa Pakraman Keliki yang turut serta ngayah dalam tawur pedanan di Desa Pakraman Tegallalang.

Tawur Pedanan yang digelar oleh Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar, ini merupakan serangkaian Karya Agung Panyegjeg Bhumi di Pura Griya, Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar. Karya yang digelar 9-23 September 2017 ini merupakan karya agung yang hampir sekelas dengan Tawur Agung yang digelar di Pura Besakih.

“Pertama kami menggelar upacara yadnya seperti ini pada 1961, dan sekarang yang kedua pada 2017. Menurut lontar yang ada di Batur A, Batur B, prasasti batuan, dan prasasti kehe, kalau upacara setingkat desa Pakraman itu 50 tahun kekuatan yadnya-nya. Kalau setingkat panca wali krama atau ngusaba desa itu 10 tahun. Ini hampir sama dengan panca wali krama yang ada di Pura Besakih,” kata Ketua I Prawartaka Karya, Drs I Wayan Mupu MPd, kepada Tribun Bali.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved