Citizen Journalism

Japanese Encephalitis dan Babi

Wabah JE pernah terjadi di Korea tahun 1949 dengan jumlah kasus 5.616 dengan kematian 2.729 orang

Japanese Encephalitis dan Babi
Tribunnews
Ilustrasi babi. 

TRIBUN-BALI.COM- Japanese encephalitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dalam Famili Flaviviridae, yang dapat menimbulkan gejala radang otak (encephalitis) pada orang. Sebenarnya penyakit ini telah dikenal sejak 1871. Virusnya pertama kali diisolasi dari otak pasien yang meninggal dunia di Jepang tahun (1924). Oleh karena itu penyakitnya disebut Japanese encephalitis (JE). Wabah JE hebat terjadi pada manusia di Jepang tahun 1924, kemudian disusul 1935 dan 1948.

Wabah JE pernah terjadi di Korea tahun 1949 dengan jumlah kasus 5.616 dengan kematian 2.729 orang. Selanjutnya penyakit terjadi tiap tahun, sampai 1969 jumlah kasus sekitar 1.000 per tahun. Setelah dilakukan vaksinasi massal pada tahun 1971, jumlah kasus menurun drastis. Pada tahun 1984 jumlah kasus hanya 6 orang.

Berdasarkan survei serologis, JE tersebar mulai dari Jepang, Korea, Tiongkok di ujung Utara sampai bagian Utara Australia (Torres Strait) di bagian Selatan. Di Barat mulai Pakistan ke Timur sampai Papua New Guinea. Sejumlah orang dan beberapa jenis hewan  (sapi, babi, kambing, domba, dll) mempunyai antibody JE, artinya mereka pernah tertular virus ini. Namun tidak semua orang dan hewan menunjukkan gejala klinis. Anak-anak dibawah umur 15 tahun peka terhadap infeksi virus JE.

JE dinilai sebagai penyakit virus dengan gejala radang otak yang paling penting di wilayah Asia-Pasifik. Jarang diketahui orang bahwa di wilayah tertular JE dengan penduduk sekitar 3 milyar, ditemukan sekitar 68.000 orang dilaporkan tertular, dengan kematian antara 13.600 sampai 20.400 tiap tahun.

Di Indonesia, virus penyebabnya diisolasi pertama kali oleh van Peenen (1975) dari nyamuk yang ditangkap di peternakan babi di Desa Rancabungur, Bogor.

Bali termasuk wilayah Indonesia dengan jumlah kasus JE relatif tinggi, sehingga mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan.

Nyamuk sebagai penular

JE tidak menular secara langsung antar manusia atau antar hewan vertebrata, melainkan ditularkan lewat gigitan nyamuk. Ada beberapa genera nyamuk, namun yang menularkan dari Genus Culex. Di Jepang dan Indonesia penular atau vektornya  Culec tritaeniorhynchus, di India C. vishnui,  Malaysia dan Thailand C. gelidus dan C. fuscocephalus.

Di alam bebas, virus JE bersiklus pada burung ↔ nyamuk. Dari nyamuk virus dapat menulari berbagai jenis hewan seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi. dsb. Reaksi hewan terhadap infeksi virus JE bervariasi. Babi dewasa umumnya tidak kelihatan tanda-tandanya, namun babi bunting bisa mengalami keguguran. Pada kuda penyakit dapat bersifat parah, seperti demam tinggi, berkeringan berlebihan, fotofobia (takut cahaya) dan encephalitis, bahkan bisa sampai mati.

Peta penyebaran Japanese encephalitis menurut WHO.
Peta penyebaran Japanese encephalitis menurut WHO. (WHO)

Di Bali, JE dinilai penting

Halaman
123
Editor: Aloisius H Manggol
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved