Palsukan Identitas Pemilik Tanah, Hasan Nekat Jual Tanah Hingga Berakhir Ke Penjara Polda Bali

Ia ditangkap karena melakukan pemalsuan identitas pemilik tanah asli, milik Abdul Aziz Alamundi alias Aziz Alamundi alias Aziz Husin.

Palsukan Identitas Pemilik Tanah, Hasan Nekat Jual Tanah Hingga Berakhir Ke Penjara Polda Bali
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismaya
Tersangka diamankan di Mapolda Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hasan Djafar alias Hasan diamankan anggota Subdit II Ditreskrimum Polda Bali.

Ia ditangkap karena melakukan pemalsuan identitas pemilik tanah asli, milik Abdul Aziz Alamundi alias Aziz Alamundi alias Aziz Husin. Akibatnya, ia pun djibeloskan ke penjara.

"Tersangka melakukan pemalsuan identitas korban yang kemudian sertifikat tanah itu dijual ke seseorang. Kami selidiki mendalam ternyata tersangka tidak memiliki hak atau kuasa atas sertifikat tanah itu," ucap Kasubdit II Ditreskrimum Polda Bali, Kompol Leo Martin Pasaribu, Selasa (24/10/2017).

Dijelaskannya, kasus ini bermula dari jual beli tanah berupa pipil. Penjualan itu dari I Made Gelar kepada Aziz Husin.

Kemudian, pipil ini dijual lagi oleh I Made Gelar kepada orang kedua, yang tidak disebut namanya oleh pihak Kepolisian. Dan dari orang kedua kemudian disertifikatkan alias menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM).

Senyampang berjalannya waktu, pihak BPN Badung memanggil Aziz Husin karena ia melakukan gugatan ke PN Denpasar atas kepemilikan tanah yang sah.

Lantas, ia juga memenangkan perkara. Ternyata, gugatan itu bukan dilakukan oleh Aziz Husin asli, melainkan dilakukan oleh Hasan.

"Dari situ kemudian terkuak, bahwa ada pemalsuan identitas, hingga gugatan di Pengadilan. Dan tersangka memenangkan gugatan hingga menjual sertifikat tanah itu ke orang lain," jelasnya.

Ia mengurai, awal mulanya jual beli tanah ini terjadi pada tahun 1976. Tepatnya pada 20 April 1976, I Made Gelar menjual tanah kepada Aziz Husin dengan luas tanah 400 meter persegi seharga Rp. 2 juta.

Kemudian, Husin kembali membeli sisa tanah dari keseluruhan tanah 10.600 meter persegi atau 6600 meter persegi seharga Rp. 3 juta.

Sampai akhirnya, tanah ini tidak diaertifikatkan oleh Aziz Husin, dan masih berupa pipil. Kemudian, pipil ini dijual lagi oleh Made Gelar ke orang kedua. Setelah di orang kedua, digadaikan ke Bank.

"Dari Bank digugat oleh tersangka, kemudian dimenangkan oleh tersangka atau Aziz palsu. Lantas dari situ, dijual ke korban atau Haji Syahril," bebernya. (*).

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved