Gunung Agung Terkini

Setelah Gunung Agung, Gunung Api Lain Berubah Statusnya, Abu Vulkanik Naik 1.000 Meter ke Langit

1 kali embusan (Amax 7mm, durasi 4 detik.Gempa letusan atau erupsi mengeluarkan letusan 1000 meter berwarna putih.

Setelah Gunung Agung, Gunung Api Lain Berubah Statusnya, Abu Vulkanik Naik 1.000 Meter ke Langit
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Pengamatan GAD melalui Magma Indonesia. 

Kendati yang mengikuti latihan silat tersebut dalam jumlah banyak.

Namun yang terpilih langsung mendapatkan wangsit dari Suhu (Guru besar yang memiliki langsung Ilmu Harimau) yang berada di Gunung Dempo.

Lantas yang menjadi pertanyaan kita adalah siapa Suhu itu sebenarnya?

Manusia (Puyang) ataukah mahluk haluskah (Dedemit)? Misteri ini hingga kini belum terjawab.

Memang hal-hal yang berbau mistik sukar dinalar secara ilmiah, namun fakta menunjukkan dan membuktikan bahwa kekuatan spritual itu memang ada.

Mereka yang terpilih (memiliki ilmu Harimau) itu dapat dibuktikan secara kasat mata.  

---

3. Emas Murni di Gunung Dempo

Ada materi yang lebih murni dari emas di sekitar Gunung Dempo, masak sih? bisa jadi.

Hal tersebut dikemukakan oleh Jurnalis Sripo Sutrisman Dinah yang mendesak pemerintah melakukan penelitian besar-besaran di kawasan Gunung Dempo mengingat banyak sekali penemuan-penemuan purbakala di daerah tersebut, dalam kutipan sebelumnya disebutkan bahwa Lahat dan Pagaralam memiliki temuan situs paling banyak di dunia.

Menarik bukan.

Memang bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah, dan lebih penting lagi adalah bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai masa lalu ke konteks kekinian.

Banyak sekali penemuan benda purbakala di Pagaralam, Lahat, dan daerah lain di sekitar Gunung Dempo, Sumatera Selatan.

Sudah seharusnya dengan banyaknya penemuan ini, pemerintah melakukan penelitian besar-besaran di daerah tersebut, sehingga akan menjawab berbagai persoalan bangsa ini.

"Pertama, soal identitas bangsa.

Selama ini banyak sejarawan membangun teori bangsa di Nusantara berasal dari utara atau dari daerah lain.

Tetapi adanya artefak bernilai tinggi dari masa prasejarah di sekitar Gunung Dempo, membuka peluang pengungkapan identitas kita sebenarnya.

Jangan-jangan kebudayaan yang tersebar di Asia ini berasal dari Nusantara," katanya.

---

4. Keajaiban Azan.

Ada satu cerita menarik di gunung Dempo. 

Banyak pendaki dan sudah seakan menjadi hal yang diketahui banyak orang jika azan sangat ajaib ketika mendaki. 

Betapa tidak, ketika mendaki dan diselimuti kabut tebal, pendaki akan kontan melantunkan azan untuk membuka kabut tersebut. 

Bukan satu dua orang, banyak yang telah mencoba pengalaman tersebut dan terbukti benar adanya. 

Misteri keajaiban azan di Dempo hingga saat ini tak bisa dijelaskan secara teori. 

Mengapa setiap kali kabut tebal solusinya adalah dengan azan.

---

5. Suku Pemberani di Gunung Dempo.

Menurut Budayawan Besemah, Bastari Suan, Sukubangsa Besemah atau menurut istilah lokal Besemah Libagh atau Besemah Sekali Nuduh adalah satu kawasan kebudayaan yang berpusat sekitar gunung Dempo (kota Pagaralam) serta menyebar meliputi beberapa suku di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung dan Jambi.

Suku ini terkenal sebagai suku pemberani dan penjelajah.

Istilah Besemah sering juga disebut dengan Pasemah.

Sebenarnya, istilah ini tidak tepat, Pasemah (Pasumah, Passumah), kata Bastari,  adalah istilah yang digunakan oleh orang kolonial seperti Inggris dan Belanda.

Besemah, terdiri dari kata “be” dan “semah”.

Be berati ada, sedangkan “semah” adalah nama ikan yang hidup di sungai di sekitar gunung Dempo dan Hulu Sungai Musi.

Jadi, Besemah adalah sungai yang ada ikan semahnya.

Istilah Besemah sendiri, lanjut Bastari, diberikan oleh seorang puyang (leluhur) yang bernama Atung Bungsu.

Suatu ketika masa lampau, puyang Atung Bungsu menemukan ikan semah di sungai Lematang, dan kemudian menamakan kawasan tersebut dengan Besemah.

Menurut legenda, seorang puyang bernama Atung Bungsu adalah salah satu dari 7 orang anak ratu (= raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling.

Atung Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih).

Melalui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), puyang Mandulike, puyang Sake Semenung, puyang Sake Sepadi, puyang Sake Seghatus, dan puyang Sake Seketi yang menjadikan penduduk Jagat Besemah.

Keturunan inilah yang disebut Suku Bangsa Besemah, yang terdiri dari suku-suku dengan bahasa melayu berdialek “e” seperti suku Semende, Gumay, Besemah Ayik Keghuh (di kawasan Empat Lawang), Kikim, Palas Pasemah (di Lampung), Kedurang(di Bengkulu) dan beberapa suku-suku lainnya.

Penulis sejarah Palembang, Johan Hanafiah, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19, menyebutkan bahwa perlawanan orang Pasemah (Besemah) dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahun lamanya.

Ditulis oleh Johan pada awalnya orang-orang luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah.

Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah.

Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa orang-orang Passumah ini adalah orang-orang yang liar.

Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar.

Bukti-bukti budaya megalitik ditanah Besemah sampai sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah Sekarang ini adalah keturunan dari Pendukung budaya megalitik tersebut ?

Yang jelas, temuan-temuan peradaban masa purba di kawasan ini belum berhenti dan makin meluas.

Menurut  arkeolog, kawasan megalitikum yang berada di sekitar Gunung Dempo (Dempu, atau yang diempu) adalah kawasan megaltitik yang berumur sekitar 3000-5000 tahun sebelum masehi dan terluas di Nusantara. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved