Breaking News:

Citizen Journalism

Seruan Kepedulian Penyelamatan Warisan Budaya Bali di Zona Wilayah Erupsi Gunung Agung

Demikian sepenggal isi imbauan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tanggal 25 Sepetember 2017 terkait penanganan penyelamatan warisan budaya

Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik hitam pekat disertai cahaya api saat difoto dari Pantai Amed, Karangasem, Minggu (26/11/2017) pukul 22.02 Wita. 

   

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - “Dalam menanggapi situasi kebencanaan Gunung Agung, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menghimbau kepada semua warga, Kelian Banjar, Pemangku dan para Bendesa Adat Pakraman yang masuk daerah rawan bencana untuk tidak lupa mengevakuasi atau menyelamatkan naskah-naskah penting, lontar-lontar, prasasti-prasasti, dan pratima-pratima serta pusaka-pusaka lainnya yang sangat penting bagi keberlangsungan Kebudayaan Bali”.

Demikian sepenggal isi imbauan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tanggal 25 Sepetember 2017 terkait penanganan penyelamatan warisan budaya yang berada di pura ataupun milik pribadi yang ada di sekitar zona rawan erupsi gunung Agung.

Memang realitanya dalam kondisi darurat seperti ini tidak satupun orang yang sempat membawa benda pusaka seperti imbauan di atas.

Gunung Agung keluarkan kepulan asap setinggi kurang lebih 3000 meter terlihat di Desa Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11).
Gunung Agung keluarkan kepulan asap setinggi kurang lebih 3000 meter terlihat di Desa Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11). (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Alih-alih menyelamatkan benda pusaka, mereka lebih mengutamakan keselamatan jiwa keluarga dan hewan peliharaan.

Bahkan ada yang tidak mengindahkan perintah pemerintah untuk mengungsi demi tetap bisa merawat hewan peliharaannya dibandingkan warisan budaya yang mereka miliki.

Jika  kita mengikuti anjuran pemerintah terkait penyelamatan warisan budaya yang dimiliki oleh pribadi maupun kelompok maka keberlangsungan kebudayaan bali akan tetap terjaga.

Gunung Agung mengeluarkan asap warna hitam dan putih saat mengalami erupsi magmatik, Senin (27/11/2017).  Kepulan asap dua warna tersebut terus membumbung tinggi setinggi 3.000 meter dari puncak Gunung Agung, sejak pagi hingga petang.
Gunung Agung mengeluarkan asap warna hitam dan putih saat mengalami erupsi magmatik, Senin (27/11/2017). Kepulan asap dua warna tersebut terus membumbung tinggi setinggi 3.000 meter dari puncak Gunung Agung, sejak pagi hingga petang. (Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)

Jangan sampai warisan budaya tersebut hilang sia-sia sehingga Bali, khususnya Kabupaten Karangasem tidak memiliki bukti warisan budaya.

Sungguh miris jika Karangasem kehilangan beberapa warisan budayanya sehingga imbasnya berdampak pada kebudayaan Bali yang notabenenya merupakan kumpulan kebudayaan dari delapan kabupaten dan satu kota madya.

Bali hidup dan bertahan hingga sekarang karena kesetiaan kita untuk menjaga dan merawat warisan budaya tersebut.

Nenek moyang orang Bali dari dulu selalu menjaga warisan budaya mereka turun temurun kemana mereka pergi maka warisan budaya tersebut akan ikut dibawanya, karena warisan budaya ini sangat bernilai dari sekedar materi uang atapun nyawanya.

Sudah selayaknya penyelamatan warisan budaya ini dilakukan bersama-sama.

Diselamatkan tidak hanya diberikan tempat yang aman tetapi bagaimana mendokumentasikannya juga.

Peran generasi millennial “Kids Zaman Now” sudah semestinya dilibatkan dalam penyebaran informasi penyelamatan warisan budaya, di mana generasi milenial merupakan generasi yang sedari lahir telah mengenal teknologi serta kemampuan mereka dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi sudah cukup mahir.

Penyebaran informasi tidak cukup hanya dengan secarik kertas tetapi penyebarannya sudah mengikuti zamannya seperti pemanfaatan sosial media. (*)

     

 Penulis:  I Gusti Agung Gede Artanegara, Pemerhati Teknologi dan Budaya BPCB Bali.

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved