Kobar Orasi Aktivis Tolak Reklamasi Asal Lereng Gunung Agung, Darmayasa: Salam Kepal Tangan Kiri!

"Kami paham bahwa di tanah Bali ada yang namanya nyegara gunung. Pegunungan tidak bisa dipisahkan dengan lautan. Jika di pesisir ada bencana

Kobar Orasi Aktivis Tolak Reklamasi Asal Lereng Gunung Agung, Darmayasa: Salam Kepal Tangan Kiri!
Tribun Bali/Rizal Fanany
Massa For Bali dan Pasubayan melakukan aksi Tolak Reklamasi berkedok revitalisasi teluk benoa dengan menampilkan aksi budaya di depan Kantor GUbernur Bali, Renon, Sabtu (2/12). Dalam aksinya mereka tetap menuntut pencabutan Perpres No.51 tahun 2014. (Rizal Fanany/Tribun Bali) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketut Darmayasa, pemuda asal Desa Duda Utara, Selat, Karangasem tetap berangkat ke Renon, Denpasar untuk mengikuti parade budaya sebagai bentuk sikap penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, Sabtu (2/12/2017).

Pemuda yang tinggal di lereng Gunung Agung dan masuk dalam zona KRB 1 ini mengungkapkan tetap konsisten menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

"Kami paham bahwa di tanah Bali ada yang namanya nyegara gunung. Pegunungan tidak bisa dipisahkan dengan lautan. Jika di pesisir ada bencana, yang di pegunungan juga merasakan sakitnya masyarakat pesisir. Begitu juga sebaliknya, ketika warga di pegunungan tertimpa bencana, warga pesisir juga merasakan perihnya saudara di pegunungan," ujar Darmayasa.

Massa For Bali dan Pasubayan melakukan aksi Tolak Reklamasi berkedok revitalisasi teluk benoa dengan menampilkan aksi budaya  di depan Kantor GUbernur Bali, Renon, Sabtu (2/12). Dalam aksinya mereka tetap menuntut pencabutan Perpres No.51 tahun 2014. (Rizal Fanany/Tribun Bali)
Massa For Bali dan Pasubayan melakukan aksi Tolak Reklamasi berkedok revitalisasi teluk benoa dengan menampilkan aksi budaya di depan Kantor GUbernur Bali, Renon, Sabtu (2/12). Dalam aksinya mereka tetap menuntut pencabutan Perpres No.51 tahun 2014. (Rizal Fanany/Tribun Bali) (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Orasi Darmayasa yang berkobar-kobar membangkitkan semangat ribuan massa aksi yang memadati pintu gerbang depan Kantor Gubernur Bali.

Darmayasa tidak sendirian. Dia, bersama beberapa kawan yang terlibat aktif dalam pergerakan ini, datang langsung dari Karangasem. Beberapa justru berangkat dari pengungsian.

"Salam kepal tangan kiri dari kaki Gunung Agung!" tutup Darmayasa dalam orasinya.

Parade budaya sebagai bentuk sikap penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, Sabtu (2/12/2017).
Parade budaya sebagai bentuk sikap penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, Sabtu (2/12/2017). (Tribun Bali / Widyartha Suryawan)

Aksi Bali Tolak Reklamasi kali ini dimeriahkan dengan beberapa atraksi budaya.

Setelah long march dari parkir timur Lapangan Bajra Sandhi Renon menuju Kantor Gubernur Bali, pementasan dibuka oleh Paguyuban Seniman Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBali, Wayan 'Gendo' Suardana mengatakan aksi ini sekaligus sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap pengungsi Gunung Agung.

"Selain menyuarakan tolak reklamasi, kami juga terus mengirim bantuan kepada pengungsi. Aksi ini juga untuk mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan pengungsi," ujar Gendo.

Berdasarkan pengamatannya di lapangan, Gendo mendapat informasi dari warga bahwa logistik terhadap pengungsi sangat minim. Bahkan, satu KK ada yang hanya diberi 2,5 kg beras untuk 4 hari. (*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved