Breaking News:

Dharma Wacana

Bagi Umat Hindu Bali, Magma Dianggap Sebagai Leluhur, Bagaimana Dengan Tradisi ‘Mendak’ Lahar?

Umat Hindu di Nusantara tidak hanya memandang gunung sebagai gundukan tanah.

Tribun Bali / Rizal Fanany
Gunung Agung terlihat tertutup awan tebal dari Pura Lempuyang,Karangasem, Bali, Selasa (26/9/2017). Hingga kini status Gunung Agung masih Awas atau Level lV. 

TRIBUN-BALI.COM - Umat Hindu di Nusantara tidak hanya memandang gunung sebagai gundukan tanah.

Tetapi menurut ajaran Hindu, ada sebuah makna atau nilai yang terkandung di dalamnya.

Kalau kita kembali pada lontar Korawa Srama, dikatakan bahwa gunung yang ada di Nusantara adalah bagian kecil dari Gunung Mahameru di India.

Konon, Gunung Mahameru ini dipotong, dibawa ke Nusantara sebagai sebuah ‘pacek’ agar Nusantara ini stabil.
Secara teologi, gunung adalah stana Dewa Siwa, sehigga Dewa Siwa juga disebut Giri Pati atau Raja Gunung.

Terkait konsep pemotongan gunung itu, secara logika kan tidak masuk akal. Sesungguhnya ajaran Siwa itulah yang dibawa ke Nusantara.

Jadi, semacam proses penyebaran paham Siwaisme ke Nusantara.

Dengan demikian, gunung-gunung yang ada di Nusantara dihormati oleh umat Hindu sebagai stana Dewa Siwa.

Penyebaran ajaran Siwaisme ini tidak menjajah kearifan lokal, sehingga di Bali Giri Pati disebut dengan nama-nama yang berbeda.

Seperti Bhatara Putran Jaya untuk penyebutan di Gunung Agung, Bhatara Hyang Gni Jaya di Lempuyang dan sebagainya.

Jadi pada prinsipnya, semua gunung itu dikuasai oleh Siwa.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved