Breaking News:

Gunung Agung Terkini

Gunung Agung ‘Tak Sepenuhnya Tenang’, Estimasi Lava di Kawah Sebanyak 20 Juta Ton

Berdasarkan hasil pengukuran terbaru, kadar gas magmatik So2 (Sulfus Dioksida) di sekitar kawah Gunung Agung mencapai 1300 ton

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Magma Indonesia
Gunung Agung 

Meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan magma ke permukaan, namun tim PVMBG masih mengukur terjadinya gempa vulkanik yang cukup tinggi, termasuk gempa low frekuesni.

Sejak pukul 00.00 Wita sampai 18.00 Wita, alat seismograf PVMBG mencatat sekitar 11 gempa vulkanik baik dalam maupun dangkal dan lebih dari 17 kali gempa low frekuensi.

Gempa vulkanik mengindikasikan masih adanya tekanan berlebih pada Gunung Agung.

Sementara gempa low frekuensi mengindikasikan masih adanya aliran infusi magma yang berusaha bergerak menuju permukaan. 

"Gempa-gempa ini justru mengindikasikan Gunung Agung belum benar-benar istirahat. Namun, tetap bergejolak di dalam. Terlebih gempa low frekuensi yang kita rekam semakin dominan. Pusat gempa ini bisanya terjadi di kedangkalan," ungkap Devy.

Hal serupa juga terpantau dari data Geokimia.

Berdasarkan hasil pengukuran terbaru, kadar gas magmatik So2 (Sulfus Dioksida) di sekitar kawah Gunung Agung mencapai 1300 ton.

Jumlah ini jauh berkali lipat dari pengukuran tanggal 2 Desember yang berjumlah 300 ton.

"Sebagai perbandingan, erupsi di Gunung Sinabung rata-rata kandungan So2 nya sebesar 300-600 ton. Gunung Agung sudah dua kali lipatnya," Jelasnya.

Berdasarkan semua paramter tersebut, PVMBG menyimpulkan jika Gunung Agung masih kritis dan masih dalam fase erupsi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved