Waspada Difteri, Bila Panas Dan Sakit Tenggorokan Segera Cek Mulut Dengan Cara Ini!

Mengingat sejumlah masyarakat Indonesia mulai terserang penyakit yang menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan ini.

Waspada Difteri, Bila Panas Dan Sakit Tenggorokan Segera Cek Mulut Dengan Cara Ini!
Grafis : didit
Gejala penyakit difteri dan cara pencegahannya. 

TRIBUN-BALI.COM - Khawatir dengan penyebaran penyakit difteri? Tidak perlu bingung selama Anda mengenali gejalanya.

dr Dominicus Husada, Anggota Komisi Ahli Difteri Nasional sekaligus Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo menerangkan, jika ada keluarga dan kerabat dicurigai terkena difteri cukup periksa bagian mulut mereka.

"Jika ada keluarga, anak, atau siapapun mengeluhkan badan panas, batuk, dan nyeri tenggorokan, apapun segera periksa mulutnya (bagian rongga mulut)," katanya saat dihubungi SURYA.co.id, Jumat (8/12/2017).

dr Domi menuturkan tanda seorang itu terserang difteri bisa dilihat dengan mudah pada bagian rongga mulutnya, terdapat bercak putih atau lapisan putih.

"Memang belum tentu itu difteri, tapi difteri selalu ditandai dengan bercak putih, segera bawa ke dokter. Sebenarnya itu cara mudah mengenali difteri sehingga pasien cepat bisa ditangani dan tidak menular," tegasnya.

Penyakit difteri beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius pemerintah.

Mengingat sejumlah masyarakat Indonesia mulai terserang penyakit yang menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan ini.

Kasus yang baru-baru ini dikabarkan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia tersebut, semakin memperjelas kondisi masyarakat yang tidak menghiraukan vaksin difteri.

dr Dominicus Husada menuturkan hal itu bisa dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang vaksin difteri.

Vaksin Difteri menurut dr Domi adalah salah satu vaksin yang sudah teruji 100 tahun lamanya.

Dia menjelaskan vaksin ini sudah lama ada sejak tahun 20an, dan banyak menyelamatkan jutaan nyawa manusia.

"Difteri ini termasuk kelompok penyakit yang sudah ada vaksinnya. Tidak banyak penyakit punya vaksin, paling hanya 40 jenis penyakit saja yang sudah ada vaksinnya. Kalau vaksin itu membahayakan seperti yang dibicarakan oleh sekelompok orang, tentu kita sudah menariknya di seluruh dunia sejak lama," jelasnya saat dihubungi SURYA.co.id, Jumat (8/12/2017).

(Surya/Pipit Maulidiya)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved