Gunung Agung Terkini

Kondisi Gunung Agung Bersifat Fluktuatif, Statusnya Ditentukan Minggu Ini

Tak seperti tanggal 23 - 24 November 2017, deformasi (perubahan) bentuk gunung tak terjadi dan stabil sampai kemarin.

Kondisi Gunung Agung Bersifat Fluktuatif, Statusnya Ditentukan Minggu Ini
Facebook Pusdalops BPBD Prov Bali
Gunung Agung, Rabu (3/1/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Pimpinan badan-badan di Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) bersama Menteri ESDM Ignasius Jonan menggelar rapat pimpinan (rapim) di Pos Pantau Gunung Agung, Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (2/1/2017) pukul 14.30 Wita.

Rapat membahas persoalan di lingkup Kementerian ESDM, salah-satunya tentang status Gunung Agung.

Setelah rapim, Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM, Rudi Suhendar menjelaskan bahwa sejak seminggu belakangan ini aktivitas Gunung Agung mengalami penurunan.

Tak seperti tanggal 23 - 24 November 2017, deformasi (perubahan) bentuk gunung tak terjadi dan stabil sampai kemarin.

Sedangkan dari aspek kegempaan, dibandingkan awal kejadian peningkatan kegempaan yang diiringi letusan sampai terjadinya letusan besar di akhir bulan November 2017, kondisi kegempaan pada seminggu terakhir relatif agak di bawahnya.

Tetapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan terus memantau aktivitas Gunung Agung.

Walaupun dari sisi deformasi dan kegempaan mengalami penurunan, Kementerian ESDM belum berani menurunkan status Gunung Agung.

Alasannya, petugas di PVMBG harus melakukan evaluasi secara menyeluruh.

"Status Gunung Agung saat ini masih Awas atau level IV. Ini berarti masih ada ancaman, yakni lontaran material yang paling dekat. Kubah kawah juga sudah terisi sepertiga dari volume kubah. Mungkin dalam beberapa hari ke depan kita akan mengevaluasi lagi statusnya," kata Rudi usai rapat pimpinan.

Ditambahkan, PVMBG akan menurunkan status gunung jika hasil evaluasi menunjukan tren penurunan dari biasanya, atau PVMBG akan mengubah radius kawasan bahaya.

Rudi meminta semua pihak bersabar, dan memberi waktu ke PVMBG untuk mengevaluasi.

PVMBG akan mengevaluasi hasil pantauannya dalam pekan ini.

"Jika hasil evaluasi kami dalam beberapa hari ke depan menunjukkan tren menurun dari sebelumnya, pasti kita akan melakukan penurunan status. Mohon sabar dulu. Berikan kami waktu untuk mengevaluasi tren-tren yang kami catat di ruangan ini," janji Rudi.

Kepala PVMBG, Kasbani, juga mengutarakan hal sama.

Kondisi Gunung Agung bersifat fluktuatif. Kadang alami penurunan, kadang meningkat.

Tapi, pihaknya bersedia menurunkan status jika hasil evaluasi menunjukan tren penurunan.

Penurunan yang terjadi hanya kemarin belum bisa dijadikan rujukan.

"Kalau potensi dampaknya dan tren aktivitas menurun, mungkin status bisa diturunkan. Atau setidaknya ada perubahan radius. Sekarang masih dalam fase erupsi. Makanya, harus menunggu hasil evaluasi minggu ini," tambah Kasbani.

Sebelum menggelar rapat pimpinan, para pejabat di Kementerian ESDM berfoto bersama di depan pos pantau dengan latar belakang Gunung Agung.

Setelah itu rapat pimpinan digelar, dari pukul 14.30 hingga 17.00 Wita secara tertutup.

Materi rapat antara lain tentang migas, energi baru terbarukan, dan anggaran di Kementerian  ESDM.

Hujan Abu

Sementara itu, sejumlah desa di Karangasem mengalami hujan abu disertai pasir setelah terjadi erupsi Gunung Agung pada Senin (1/1/2017) sekitar pukul 22.05 Wita. 

Hujan abu terlihat jelas antara lain di Desa Muncan Kecamatan Abang; dan Desa/Kecamatan Rendang, serta Desa Besakih Kecamatan Rendang.

"Senin malam itu memang ada gempa letusan, onset-nya tegas," ujar Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana kemarin.

Letusan tersebut melontarkan abu vulkanik setinggi 1500 meter, dan terbawa angin ke arah barat dan barat daya.

Hal ini menyebabkan sejumlah wilayah seperti Gianyar dan Denpasar diguyur hujan abu tipis.

"Abu dari Gunung Agung sudah sampai Gianyar. Kaget saja pagi-pagi kendaraan sudah kotor karena diselubungi abu vulkanik," ujar Ardana, salah seorang warga Gianyar.

Selain terjadinya letusan, tingginya aktivitas vulknik di Gunung Agung masih ditandai dengan terekamnya gempa permukaan seperti hembusan dan gempa vulkanik baik dalam mupun dangkal.

Nengah Upah warga Banjar Dinas Kaja, Desa Muncan mengaku bahwa hujan abu disertai pasir terjadi pukul 22.20 - 04.00 Wita. Abu cukup tebal.

Yang paling tebal menyisir Banjar Manik serta Kaja.

Lapisan jalan  berwarna putih tertutup abu.

Daun dan pohon terkena abu.

Sedangkan atap rumah dihiasi abu dan pasir vulkanik.

"Lumayan lama hujan abunya. Seharian, dari kemarin sampai pagi hujan abu. Tapi siang ini sudah berhenti hujan abunya," kata Nengah Upah saat ditemui Tribun Bali di perempatan Desa Muncan, Selasa (2/1/2017) kemarin.

Made Pasek warga Desa Rendang juga mengutarakn hal sama.

Sebagian warga perih matanya lantaran terkena abu vulkanik.

Aktivitas warga terhambat pada pagi hari, karena masih ada bekas abu.

Saat diterpa angin, abu yang berada di pohon berterbangan, dan menyebar ke permukiman.

"Di sini lumayan lebat hujan abunya. Pagi-pagi warga pakai masker. Mata perih akibat terkena abu. Lahar dingin masih belum ada walaupun sudah hujan abu," kata Pasek saat ditemui di Desa Rendang.

Ketua Pasemetonan Jagabaya Gunung Agung, Gede Pawana mengungkapkan, para relawan pasebaya mendapat informasi bahwa beberapa daerah di Karangasem terkena hujan abu.

Ada juga yang terkena abu warna merah disertai pasir di Banjar Dinas Temukus, Desa Besakih.

Daerah yang berada di lereng Gunung Agung bagian barat, kata Gede Pawana, hampir sebagian terkena hujan abu. 

Seperti di Kecamatan Selat serta Rendang.

Info dari para relawan pasebaya, abu vulkanik menyebar hingga ke Kabupaten Badung, Gianyar, dan Kabupaten Klungkung.

Kepala PVMBG, Kasbani mengatakan, pada Senin (1/1/2017) tengah malam ada erupsi kecil. 

Ketinggian asap sekitar 1.500 meter dari puncak atau sekitar 5.000 meter dari permukaan laut.

"Dampak sampai ke Desa/Kecamatan Rendang. Ada sedikit abu yang kita saksikan bersama di pos pantau," kata Kasbani. 

Dari sisi kegempaan, hingga sore kemarin masih terekam gempa vulkanik tapi tidak seintens gempa-gempa selama sebulan sebelumnya di tahun 2017.

Gempa itu mengindikasikan ada aliran fluida ke permukaan kawah.

Seperti ada magma yang keluar dari dalam kawah. Potensi terjadi letusan masih tetap ada.

Pada minggu ini, kata Kasbani, erupsi lebih kecil dibanding bulan sebelumnya.

Ketinggian asap erupsi tak ada yang sampai 2.500 meter, rata-rata sekitar 500 hingga 1.500 meter.

Dari sisi pengisian kawah, pekan ini tidak bertambah, dan volume lava sekitar kubah kawah masih terisi sepertiga

"Pada awalnya (lava) naiknya begitu cepat. Tapi sekarang tak menambah. Saat ini baru isi sekitar sepertiganya. Sekitar 20 juta meter kubik. Tidak ada penambahan signifikan. Sampai hari ini tidak naik sampai ke permukaan," tambahnya.(*)           

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved