Usir Hawa Negatif, Krama Desa Adat Bungaya Bakar Memedi

Jam menunjukan pukul 21.00 wita, sebagian krama Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem berduyun–duyun ke Pura Pemuhunan

Usir Hawa Negatif, Krama Desa Adat Bungaya Bakar Memedi
Tribun Bali/Saiful Rohim
Prosesi pembakaran suratan memedi di Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, Rabu (10/1) kemarin. Sebelum membakar warga juga menghaturkan sesaji di Pura Pemuhunan. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA– Jam menunjukan pukul 21.00 wita, sebagian krama Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem berduyun–duyun ke Pura Pemuhunan untuk bersembahyang serta haturkan sesaji memohon untuk bakar memedi, Rabu (10/1/2018).

Setelah prosesi persembahyangan, warga yang haturkan sesaji di Pura Pemuhunan kembali ke rumah untuk membakar suratan memedi yang telah didirikan di halaman rumah.

Sebelum pembakaran suratan memedi digelar, krama lebih dulu memukul kul kul.

"Warga memukul kulkul pertanda pembakaran suratan memedi dimulai. Dalam prosesi ini suratan memedi disimbolkan sebagai hawa negatif," kata Kerta Desa Adat Bungaya, Gede Krisna Widana.

Menurut Gede Krisna, suratan memedi terbuat dari daun bambu, daun pulet, daun aba, dan daun terang.

Daunnya digambari bentuk orang-orangan dengan pamor.

Setelah terbentuk, lalu  suratan memedi didirikan di depan halaman rumah masing-masing.

"Setelah dibakar, abu dari pembakaran suratan memedi di bentuk wong wongan. Wewantenan yang telah dipersiapkan, segera dihaturkan diatas abu yang dibentuk wong - wongan," kata Gede Krisna Widana.

Bagi Krama Desa, prosesi ini dinamai Ngusaba Medi / Ngusaba Mumu yang dilakukan setiap tahun.

Makna yang tersirat dalam prosesi Ngusaba Medi atau Ngusaba Mumu, yakni untuk mengusir dan menetralisir hawa jahat, dalam hal ini adalah budakalla.

Halaman
12
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved