Liputan Khusus Tribun Bali

Limbah Medis Dibuang ke TPA Suwung – Racun dan Virus Menular Ini Mengintai Warga Denpasar

Ini sangat membahayakan lingkungan, sanitasi warga di Denpasar. Apalagi limbah medis ditemukan di TPA Suwung.

Limbah Medis Dibuang ke TPA Suwung – Racun dan Virus Menular Ini Mengintai Warga Denpasar
Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara
LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA. 

News Analysis : Surya Anaya, Direktur Bali Fokus

TRIBUN-BALI.COM - JIKA masih ditemukan limbah medis di TPA sampai masih ada cap rumah sakitnya, ini adalah sebuah keteledoran besar.

Kami dari Bali Fokus sangat menyayangkan ini terjadi.

Kami mengimbau kepada pihak rumah sakit supaya mereview kembali supaya tidak dituntut, karena membahayakan kehidupan masyarakat di hilir.

Ini sangat membahayakan lingkungan, sanitasi warga di Denpasar. Apalagi limbah medis ditemukan di TPA Suwung.

Baca: BAHAYA! Usai Tertusuk Jarum Suntik Bekas di TPA Suwung, Arik 8 Bulan Terkapar Tak Bisa Bangun

Baca: Limbah Medis Berceceran Darah Dibuang ke TPA Suwung, DLHK Kaget ‘Itu Bahaya, Itu Maling!’

LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA.
LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA. (Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara)

Itu artinya ada sebuah kelalaian dan pembiaran.

Karena kita ketahui limbah medis itu sangat berbahaya, karena sering sekali mengandung racun, bahan-bahan pathogen, infeksius, bahan radio aktif.

Baca: Infus Bekas Sampai Selang Berisi Ceceran Darah Laris Manis di TPA Suwung, Harganya Sampai Segini

Jadi limbah medis itu seharusnya tidak sampai ada di lingkungan manusia.

Harus sudah ditangani sebelum dilepas ke lingkungan luar rumah sakit.

Harusnya penanganan limbah medis ini sangat komprehensif, harus ada sistem yang komprehensif yang dilakukan.

Misalnya ada beberapa pihak yang menangani ini.

Contohnya dari rumah sakit, jasa limbah medis, dan juga pemerintah. Mereka duduk bersama bagaimana menangani limbah medis ini.

Salah satu alternatif biasanya dengan incinerator, tapi incinerator tidak lagi kami sarankan.

Karena itu akan membuang toksin lagi ke udara. Itu berbahaya bagi kesehatan.

Nah yang kami sarankan autoclaving salah satu alternatif untuk bahan-bahan yang patogenik, maupun yang toksin, yang infeksius.

Sebelum dibuang ke lingkungan harus sudah bebas dari bahaya.

Tidak bisa meracuni orang lagi.

Jadi ada proses yang sangat panjang dan berkelanjutan yang harus dilakukan.

Proses ini tentu memiliki bagian-bagian spesifik untuk menanganinya.

Misalnya mercury bagaimana menangani, pathogen bagimana, infeksius masih mengandung virus menular, bakteri itu penangannya bagaimana. Harus ditangani dengan sangat baik.

Kan kasihan, di TPA pakai landfill, tercemar, kemudian kalau hujan, cairan dari TPA itu masuk ke lingkungan pengairan, laut tercemar bahan-bahan beracun.

Trus ikannya dimakan oleh manusia.

Nah ini sebuah lingkaran setan.

Bali Fokus pernah melakukan MoU (kerjasama) pada 13 Juni 2011 dengan 7 rumah sakit di Denpasar. Kami membuatkan semua perangkat MoU-nya, termasuk apa saja yang perlu dikerjasamai.

Seperti mengontrol penggunaan mercury dari layar yang besar.

Dulu sejak 2011 sampai 2014 sudah berjalan dengan sangat baik. Beberapa rumah sakit bahkan sudah menerapkan sistem autoclaving ini.

Yang belum karena keterbatasan dana.

Setelah 2014, kami serahkan tanggungjawab pengawasan ini sepenuhnya ke pemerintah.

Makanya setelah itu kami tidak tahu lagi bagaimana keadaan di rumah sakit. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved