Liputan Khusus Tribun Bali

BAHAYA! Usai Tertusuk Jarum Suntik Bekas di TPA Suwung, Arik 8 Bulan Terkapar Tak Bisa Bangun

Ia tak menyangka gundukan sampah TPA yang sempat ia dorong menggunakan kaki ternyata berisi jarum suntik bekas.

BAHAYA! Usai Tertusuk Jarum Suntik Bekas di TPA Suwung, Arik 8 Bulan Terkapar Tak Bisa Bangun
Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara
LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA. 

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 sudah jelas melarang adanya limbah medis yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Namun, dari hasil penelusuran Tribun Bali di lapangan sejak Agustus 2017 hingga awal Januari 2018, limbah medis masih bebas dibuang ke TPA Suwung, Denpasar.

Pemerintah dan LSM Lingkungan pun kaget.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sambil memegang besi dan kayu, Arik memukul keras telapak kakinya berkali-kali.

Pemulung di TPA Suwung itu berupaya keras mengeluarkan jarum suntik bekas rumah sakit yang bersemayam di telapak kakinya.

Pria berusia 55 tahun ini baru menyadari kakinya tertusuk jarum suntik bekas setelah lima jam bergerilya mencari sampah yang bisa didaur ulang di TPA seluas 32 hektare tersebut.

Baca: Mengenal Hari Raya Siwaratri Yang Diyakini Sebagai Malam Hening Peleburan Dosa

Ia tak menyangka gundukan sampah TPA yang sempat ia dorong menggunakan kaki ternyata berisi jarum suntik bekas.

Baca: Infus Bekas Sampai Selang Berisi Ceceran Darah Laris Manis di TPA Suwung, Harganya Sampai Segini

“Padahal saya sudah pakai sepatu, tapi tembus juga,” kata pria asal Jember ini saat diwawancara Tribun Bali, Kamis (4/1/2017) sore, di TPA Suwung.

Peristiwa itu dialami Arik pada akhir 2016 silam.

Baca: Limbah Medis Berceceran Darah Dibuang ke TPA Suwung, DLHK Kaget ‘Itu Bahaya, Itu Maling!’

Meski sudah lebih dari setahun, namun pengalaman itu membuat Arik trauma hingga saat ini.

Sebab, setelah tertusuk jarum suntik bekas itu, Arik sempat tidak bisa bangun selama delapan bulan.

“Pas besoknya setelah saya kena tusuk, paginya kaki saya mulai bengkak. Saat saya pakai jalan, saya roboh. Akhirnya saya pulang ke Jember. Tidak bisa kerja delapan bulan. Benar-benar menderita saya selama delapan bulan,” tutur pria yang sudah menjadi pemulung di TPA Suwung sedari 20 tahun silam itu.

Awalnya, Arik dikasih obat suntik oleh dokter yang memang berkantor di kawasan TPA Suwung.

Namun obat itu tak mempan. Arik pun memutuskan berhenti memulung.

Di kampung halamannya, Arik sempat pula mendatangi seorang dokter praktek.

Waktu itu, ia meminta diberikan obat yang paling mujarab agar kakinya segera sembuh.

Meski sudah diberikan obat suntikan yang mujarab, namun sakit yang dialaminya kala itu hanya hilang sesaat.

“Setelah obatnya habis, sakitnya kembali muncul, dan kembali bengkak. Akhirnya teman saya menyuruh menggunakan pengobatan terapi panas. Saya coba, tiga kali terapi akhirnya saya sembuh dan kembali kerja,” kenang Arik.

Arik adalah satu di antara banyak pemulung di TPA Suwung yang sempat terkena tusukan jarum suntik bekas ketika sedang bekerja mencari sampah.

Maklum, limbah medis seperti spuit, bekas infus, selang infus, kantong darah, dan botol obat memang bebas dibuang di TPA yang berada di kawasan Pesanggaran, Denpasar ini.

LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA.
LIMBAH MEDIS - Berbagai jenis limbah medis ditemukan di TPA Suwung, Denpasar, belum lama ini. Pemerintah melarang sampah medis dibuang ke TPA. (Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara)

Meski tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, sampai saat ini masih ada pihak rumah sakit yang membuang limbah medis ke TPA Suwung. Bahkan ditemukan sampah medis yang masih ada nama dan cap rumah sakitnya.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya wah banyak di sini ada jarum, kantong darah. Sekarang pun masih ada, tapi sudah mulai berkurang. Tidak seperti dulu (sebelum tahun 2017),” ungkap Arik

Hasil penelusuran Tribun Bali selama sepekan terakhir ini,

memang masih ada limbah medis yang dibuang di TPA Suwung. Sampah medis yang tergolong bahan berbahaya dan beracun itu rupanya masih bebas dibuang di TPA tersebut.

Sejumlah pemulung pun rata-rata mengaku masih sering menemukan adanya limbah medis yang dibuang di TPA terbesar di Bali ini.

“Tadi malam ada yang buang,” kata pemulung yang mengaku melihat langsung sampah medis yang dibuang ke TPA Kamis (4/1/2017) sekitar pukul 01.00 Wita.

Pada awal Oktober 2017, tepat di sisi barat lokasi masuk ke areal pembuangan sampah, terlihat sampah-sampah medis seperti bekas obat, botol infus, bekas perban berisi ceceran darah, dan spuit bekas suntikan berserakan.

Diduga waktu itu sampah-sampah medis ini belum lama dibuang ke TPA, karena kondisi sampah masih bersih alias belum berisi banyak lumpur dan tanah.

Sebelunnya, sekitar akhir Agustus 2017, tumpukan tas kresek hitam dan kuning juga terlihat di sekitar lokasi pembuangan sampah di TPA Suwung.

Bukan sembarang sampah, di dalam tas kresek itu juga terdapat botol infus, spuit, sisa obat, dan bekas perban, serta slop tangan berisi bekas ceceran darah.

Dua orang pemulung tampak menyerbu sampah medis tersebut.

“Jelas laku kalau sampah begini,” kata seorang pemulung yang enggan namanya dikorankan.

Saat Tribun Bali mencoba bergerilya di antara gunung sampah TPA Suwung, awal Januari ini, tampak di ujung atas TPA ini, tepatnya pada sisi timur, sejumlah alat berat sedang bekerja mengeruk sampah yang baru datang dan dibuang.

Tribun Bali pun mencoba mendekati sejumlah petugas pengeruk sampah yang bekerja di lokasi pembuangan.

Waktu itu Tribun Bali berpura-pura sebagai petugas rumah sakit yang hendak membuang limbah medis menggunakan mobil pikap.

Limbah Medis
Limbah Medis (Tribun Bali)

Saat Tribun Bali bertanya apakah boleh membuang limbah medis di TPA Suwung, petugas DLHK Denpasar itu menjawab,

“Boleh kok. Sampah rumah sakit sama tempat pembuangannya di sini. Di sini semua tempatnya. Campur.”

“Jam berapa saja boleh buang. Izin saja dulu di bawah (kantor DLHK di TPA Suwung),” imbuh petugas tukang keruk sampah itu, lalu melanjutkan kerjanya mengeruk sampah dari truk-truk yang baru datang. (*) 

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved