Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Banyak Lulusan S1 Jadi Pengangguran Karena Gengsi Pemuda Bali Tinggi

Jumlah pengangguran di Bali mengalami kenaikan bukan disebabkan oleh minimnya lapangan pekerjaan.

Tayang:
Editor: Eviera Paramita Sandi
Kolase
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Wema Satyadinata

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jumlah pengangguran di Bali mengalami kenaikan bukan disebabkan oleh minimnya lapangan pekerjaan.

Tapi lebih karena gengsi pemuda Bali yang terlalu tinggi dan terlalu memilih-milih pekerjaan.

Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, jumlah angkatan kerja di Bali pada Agustus 2017 mencapai 2.434.450 orang.

Baca: Harapan Bagi Pengangguran, Pemprov Bali Akan Berangkatkan 500 TKI ke Luar Negeri, Ini Syaratnya

Jumlah ini berkurang 28.589 orang dibanding angkatan kerja Agustus 2016 (2.463.039 orang), atau berkurang 34.654 orang dibanding angkatan kerja Februari 2017 (2.469.104 orang).

Sedang jumlah penduduk yang bekerja di Bali Agustus 2017 mencapai 2.398.307 orang.

Jumlah ini berkurang 18.248 orang dibandingkan keadaan Agustus 2016 (2.416.555 orang), atau berkurang 39.187 orang dibandingkan keadan Februari 2017 (2.437.494 orang).

Pengangguran Terdidik
Pengangguran Terdidik (Istimewa)

Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bali pada Agustus 2017 mencapai 1,48 persen.

Jumlah ini mengalami penurunan 0,41 poin dibandingkan TPT Agustus 2016 (1,89 persen). Namun mengalami kenaikan 0,20 poin dibandingkan dengan TPT Februari 2017 (1,28 persen).

Kadisnaker dan ESDM Provinsi Bali, Luh Made Wiratmi, mengakui kenaikan jumlah pengangguran sebesar 0,2 persen tersebut.

Jika dilihat dari jenjang pendidikan, pengangguran didominasi oleh SMA dan SMK sederajat, serta Pendidikan S1 atau Sarjana.

Wiratmi menyatakan faktor penyebab pengangguran karena gengsi pemuda Bali dan terlalu memilih-milih pekerjaan.

Pemuda Bali tidak mau mangambil pekerjaan informal.

“Kita tahu generasi muda Bali sangat pemilih dalam menentukan pekerjaan atau bisa dibilang gengsi. Jarang yang mau mengambil pekerjaan informal,” ungkapnya kepada Tribun Bali, Rabu (17/1/2017).

Ia berharap kedepannya pencari kerja mau memilih pekerjaan informal, misalnya berwirausaha dengan memanfaatkan teknologi.

Wiratmi yang menjabat sebagai Kadisnaker dan ESDM Provinsi Bali sejak 2 Agustus 2017 ini juga berharap tenaga kerja Bali bersedia bekerja di luar negeri.

Kapal Pesiar
Kapal Pesiar (Kolase / Grafis Tribun Bali)

Hal ini bisa menekan jumlah pengangguran di Bali.

Program Pemprov Bali yang akan memberangkatkan 500 tenaga kerja ke luar negeri dengan dibiayai Rp 20 juta per orang merupakan peluang emas bagi pemuda Bali untuk mendapatkan pekerjaan.

Apalagi gaji di luar negeri sangat tinggi. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved