Liputan Khusus

Begini Pendapat Pakar Psikolog Forensik Terkait Pemakaian Sex Toy, Bahaya Jika Sudah Ketergantungan

Kalau perspektifnya untuk variasi dalam hubungan intim pasangan, penggunaan sex toy itu sebenarnya sah-sah saja.

Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Caecilia Nirlaksita pakar Psikolog Forensik 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kalau perspektifnya untuk variasi dalam hubungan intim pasangan, penggunaan sex toy itu sebenarnya sah-sah saja.

Bahkan, di luar negeri bisa dilihat di pertokoan sex toy dijual kepada publik.

Bahkan ada sex toy store, dan ada beragam pilihan barangnya

Demikian diungkapkan oleh Made Diah Lestari, dosen psikologi klinis dan psikologi seksual di Jurusan Psikologi, Universitas Udayana (Unud), menanggapi cukup maraknya penjualan sex toy di Bali.

“Tapi secara normatif, ya mungkin dalam budaya kita, kehadiran barang itu belum biasa, sehingga belum bisa diterima secara umum. Padahal di luar negeri sex toy biasa dipakai,” kata Diah Lestari.

Bahkan pada terapi-terapi tertentu, lanjut Diah, sex toy juga digunakan di luar negeri. Misalnya pada terapi terhadap disfungsi seksual, juga dalam upaya agar pasangan sama-sama terbangkitkan kembali gairahnya. 

Yang ditekankan Diah Lestari adalah bagaimana penggunaannya: apakah menimbulkan ketergantungan, dan kemudian menyebabkan penyimpangan perilaku seksual.

Kalau sampai menimbulkan penyimpangan perilaku seksual, jelas dia, ya harus dicermati.

“Kendati pakai sex toy, jangan sampai lupa sebetulnya yang sehat dan ideal itu adalah berhubungan dengan pasangan sendiri. Jangan malah sama pasangan sendiri tidak puas, atau terjadi penyimpangan perilaku seksual,” terang Diah Lestari.

Contoh lain yang disebut Diah sebagai penyimpangan perilaku seksual adalah sadomasokisme atau menggunakan sex toy untuk mendapatkan kepuasan dengan cara-cara yang tidak lazim.

Cara seperti itu disebutnya sudah menjurus ke penyimpangan perilaku seksual.

Apakah penggunaan sex toy oleh seseorang itu menunjukkan pemakainya secara psikologis ada kelainan?

“Tergantung pemakaiannya, tujuannya untuk apa, dan seberapa sering menggunakannya. Terapis pun memakai alat itu untuk terapi masalah disfungsi seksual,” kata Diah Lestari.

“Yang saya tahu di buku-buku yang saya ajarkan ke mahasiswa atau di video, terapis kadang-kadang memakai alat itu untuk mengajarkan misalnya ada kelainan atau ada disfungsi seksual,” kata dia. 

Caecilia Nirlaksita, psikolog forensik dari Denpasar, mengatakan bahwa ada plus dan minus penggunaan sex toy.

Mainan itu bisa bermanfaat untuk variasi dalam hubungan pasangan, sehingga tidak monoton dan asalkan diperhatikan higienitasnya.

“Untuk eksplorasi demi kebahagiaan pasangan suami istri, boleh saja menggunakan sex toy. Selama kedua pihak secara perasaan, pikiran dan mental merasa saling ada take and give dan sama-sama senang ya boleh-boleh saja,” kata Caecilia.

Namun, Caecisila mengingatkan, akan bermasalah bila remaja menggunakan sex toy. “Kan kita tahu, puluhan tahun kasus remaja dengan seks bebas sudah kronis,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved