Beban Moral Menjadi Seorang Dalang Sapuh Leger, Siapa Yang Akan Mengambil ‘Kotorannya’?
Ngwayang sapuh leger jauh lebih berat konsekuensinya daripada Nyalon Arang.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ngwayang sapuh leger jauh lebih berat konsekuensinya daripada Nyalon Arang.
Kalau sapuh leger kotoran orang dibersihkan, lalu siapa yang mengambil kotorannya?
Kalau kita tidak bersih secara jasmani dan rohani tetapi berani membersikan orang lain, berarti kotorannya siapa yang ambil,” kata Komang Indra Wirawan atau Komang Gases, dalang dan juga akademisi di IKIP PGRI Bali.
Kalau seorang dalang mengerti dengan sesama, maka ia akan merasa dibebankan dengan nilai moral.
Berbicara wayang sudamala, wayang bedog, hanya sebatas ada pedanda munggah satu jam sudah selesai, akan tetapi berbicara wayang sapuh leger atau bebayuhan melik ada beban moral di sana yang harus ditanggung, sehingga dalam bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari harus dijaga.
“Kita mengucapkan mantra agni ngelayang, ngelukat semua itu, masak kita tidak bisa melakukan seperti itu. Masak kita tidak menjaga perbuatan kita,” kata Indra.
Ia juga menambahkan, saat melukat wayang sapuh leger tidak hanya menggunakan mantra biasa, tapi ada tambahan ong agni ngelayang yang diyakini sebagai mantra penglukatan pada saat orang yang benar-benar sakit parah, melik, kena racun, upas, dan sebagainya.
Oleh karena itu dalam ngewayang sapuh leger pondasinya harus kuat.
“Kalau mau ngewayang, sehari sebelumnya sudah mebersih, keramas, melukat, biar segar mewayang dan siap. Dan mantra terakhir saat ngelukat, ‘tiang hanya sebagai seorang dalang, tugas hanya membersihkan melukat,’ bersih atau tidak kembali ke karma masing-masing,” kata Indra.
Sementara wayang yang dipergunakan dalam sapuh leger adalah wayang kulit yang identik dengan wayang parwa dan pementasannya pada umumnya satu setengah jam.
Selanjutnya setelah seseorang dilukat dilanjutkan dengan mabiyakaon, prayascita durmanggala, kalau berisi, ada upacara mejaya-jaya dengan krawista.
Menurutnya, sebenarnya pelaksanaan sapuh leger ini bersifat semi sejarah, ada ya ada, tidak ya tidak, karena hal itu diturunkan sebagai warisan budaya yang tetap diyakini oleh masyarakat Bali.
Tapi karena keyakinan menjadi sebuah pertanda dan dikolaborasikan dengan budaya Hindu di bali diikat oleh agama, sehingga agama itu memberikan sebuah sugesti bahwa cerita itu benar-benar ada. (*)