Serba Serbi

Mensyukuri Kekayaan dan Kemakmuran di Hari Buda Cemeng Klawu, Ini Mitos yang Berkembang

Umumnya para pedagang melakukan persembahyangan khusus di tempatnya berjualan atau di Pura Melanting di dalam pasar.

Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Karyawan PT Central Kuta Money Exchange melaksanakan persembahyangan Piodalan Rambut Sedana, Rabu (17/9/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Rerainan Rambut Sedana pada Buda Wage/Buda Cemeng Klawu, Rabu (28/2/2018) sering diidentikan masyarakat Bali sebagai pemujaan kepada uang.

Umumnya para pedagang melakukan persembahyangan khusus di tempatnya berjualan atau di Pura Melanting di dalam pasar. 

Pengasuh Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda menyebutkan, Rerainan Rambut Sedana merupakan hari untuk mensyukuri kekayaaan dan kemakmuran.

"Bukannya hari atau pemujaan kepada uang. Pemujaan ditujukan kepada Sang Hyang Rambut Sedana atau Dewi Laksmi," katanya, (27/2).

Terkait kepercayaan tidak boleh menabung atau membayar hutang pada hari tersebut, pendeta yang merupakan pensiunan jurnalis itu menerangakan hal itu merupakan tradisi atau kepercayaan kuno. 

"Di era modern hal itu tidak berlaku, masak operasional bank berhenti pada hari itu," terangnya. 

Begitupun adanya kepercayaan jika membeli dompet saat rerainan Rambut Sedana rejeki akan mengalir, menurut Mpu Jaya Prema hal itu hanyalah mitos.

"Yang terpenting, umat harus bisa memaknai setiap hari baik atau rerainan. Untuk prosesi persembahyangan atau upakara bisa disesuaikan," terangnya. (*)

Penulis: I Made Argawa
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved