Melarat di Pulau Surga

Dadong Sukranis Hidup Sebatangkara, Menggantungkan Hidup dari Porosan

Hidup di bawah garis kemiskinan sekalipun nyatanya tidak serta merta membuatnya mendapat uluran tangan dari pemerintah.

Dadong Sukranis Hidup Sebatangkara, Menggantungkan Hidup dari Porosan
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Dadong Sukranis (82) duduk saat ditemui di rumahnya, Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Jumat (2/3/2018). 

Tanpa alas tikar apalagi kasur.

Semangat Dadong Sukranis dalam menjalani hidup memang patut dipuji.

Meski mengalami kebutaan sejak lahir, ia memutuskan untuk tetap bekerja, mencari uang.

Ia menggantungkan nasibnya sebagai pembuat porosan (sarana upakara).

"Porosan dijual sama pengepul. Pengupulnya sendiri yang datang ke rumah. Sehari paling dapat Rp 10 ribu. Bahan-bahan untuk buat porosan juga dipesan sama tetangga biar dibawakan ke rumah. Saya tidak bisa jalan jauh-jauh dari rumah. Tidak bisa melihat. Tapi kalau cuma ke kamar mandi ya bisa, sudah hafal," ungkap Dadong Sukranis ditemui Tribun Bali di rumahnya, Jumat (2/3/2018).

Sebenarnya, Dadong Sukranis memiliki lima saudara.

Namun mereka seluruhnya telah berkeluarga dan hidup terpisah.

Ia pun memahami kondisi keluarganya sehingga ia memilih dan merasa nyaman untuk tinggal seorang diri di gubuk tersebut.

Banyak yang sayang pada Dadong Sukranis.

Warga sekitar kadang bergantian membawakan makanan untuknya.

Halaman
123
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved