Begini Aksi Women’s March Tuntut Persamaan Hak Lewat Puisi dan Orasi Lantang di PB3AS

aksi ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi terkait perlindungan anak, perempuan, kaum minoritas, dan masalah kekerasan berbasis gender.

Begini Aksi Women’s March Tuntut Persamaan Hak Lewat Puisi dan Orasi Lantang di PB3AS
Tribun Bali/I Putu Supartika
Orasi para peserta aksi Women’s March di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja, Minggu (4/3/2018) pagi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Setelah melakukan long march, peserta aksi Women’s March berkumpul di depan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), Minggu (4/3/2018) pagi dan melakukan orasi di sana.

Peserta duduk di depan podium mengacungkan spanduk yang mereka bawa, dan beberapa perwakilan peserta aksi mulai berorasi hingga membacakan puisi.

Salah satu peserta aksi, Ni Luh Eka Purni Astiti yang juga relawan KISARA (Kita Sayang Remaja) Bali mengatakan aksi ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi terkait perlindungan anak, perempuan, kaum minoritas, dan masalah kekerasan berbasis gender.

“Seperti kita ketahui ada KUHP yang memperluas sektor perzinahan yang diatur RKHUP yang sangat ngawur. Ini dapat mengkriminalisasikan pasangan tanpa ikatan perkawinan dan tanpa ikatan pernikahan yang tinggal dalam satu rumah bisa dipidana hanya karena laporan tetangga. Bayangkan warga miskin yang tidak bisa mengurus akte kawin dan perkawinannya hanya disahkan oleh adat bisa dikriminalisasi,” kata Eka dalam orasinya.

Selain itu, ia menambahkan jika nanti diterapkan RKUHP tersebut, jika ada kasus pemerkosaan terhadap anak yang didasari suka sama suka dan korban tidak berdaya, korbannya pun bisa dikriminalkan.

“Ini yang paling miris, agar tidak dipidanakan korban harus dikawinkan dengan pelaku pemerkosaan. Bayangkan kalau masih kecil harus dikawinkan padahal mereka semestinya menunut ilmu,” imbuhnya.

Dalam orasinya itu, Eka menambahkan, saat ini Indonesia sedang mengalami fase darurat kekerasan seksual. 

Dari data komnas HAM tahun 2012 - 2015 mencatat 3.000 hingga 6.500 kasus kekerasan seksual yang terjadi setiap tahunnya baik di ranah personal, rumah tangga, dan juga komunitas. 

"Kasus ini ibarat gunung es karena sebagian besar korban bungkam atau diam karena tidak ada suatu peraturan yang 100 persen memberikan perlindungan bagi korban. Apalagi pelaku memiliki jabatan atau kuasa maka korban akan diam. Hal ini membuat korban akan bertambah setiap tahunnya," imbuhnya.

Ia juga meminta kepada semua orang agar sepakat mendukung tidak adanya perkawinan anak atau remaja karena sudah kadong hamil. 

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved