Semua Manusia Punya Unsur Laki dan Perempuan, Begini Pandangan Agama Hindu Soal LGBT

Pendidikan yang ideal untuk membentuk kepribadian seseorang harus dimulai sejak dalam kandungan atau parental.

Semua Manusia Punya Unsur Laki dan Perempuan, Begini Pandangan Agama Hindu Soal LGBT
Metro
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut I Made Sugata, Wakil Dekan Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar, setiap manusia memiliki unsur lelaki dan perempuan. 

Walaupun seorang lelaki, pasti ia memiliki sifat feminis begitu juga sebaliknya.

Hal itu dikatakannya dalam acara Forum Group Discusion Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar yang mengambil tema 'Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LBGT) dalam Pandangan Agama Hindu', Rabu (6/3/2018).

"Kecenderungan LBGT dalam perspektif Hindu kan berawal dari psikis atau unsur laki dan perempuan yang dibawa orang tua masing-masing. Ketika unsur itu diturunkan, anak itu pasti bawa. Kecenderungan mana yang lebih dominan, itu tergantung aspek pendidikan," katanya.

Pendidikan yang ideal untuk membentuk kepribadian seseorang harus dimulai sejak dalam kandungan atau parental. 

Forum Group Discusion Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar yang mengambil tema 'Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LBGT) dalam Pandangan Agama Hindu', Rabu (6/3/2018).
Forum Group Discusion Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar yang mengambil tema 'Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LBGT) dalam Pandangan Agama Hindu', Rabu (6/3/2018). (Tribun Bali / Putu Supartika)

Kalau pendidikannya mengarah kepada maskulin maka akan menjadi maskulin begitu juga untuk feminim.

"Bahkan yang paling ekstrim dalam Hindu, pendidikan dimulai ketika akan mempertemukan sperma (kama petak) dan sel telur (kama bang) dengan dimulai dari alam pikiran kedua belah pihak. Harus mulai dari pikiran kita," imbuhnya.

"Ketika sudah lahir, hal ini juga tidak bisa lepas dari pendidikan yang diberikan. Ketika cara mendidik kita seperti anak perempuan walaupun dia laki, maka tingkah lakunya akan seperti perempuan juga," katanya.

Selain itu, pergaulan sesama jenis juga akan ada kecenderungan untuk terjadinya penyimpangan.

Kalau misalkan bergaul lekat dengan sesama laki-laki, pada suatu saat pasti akan muncul sisi feminismenya sehingga muncul loyalitas, tidak ingin menyakiti, mengingkari.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved