Terungkap, Virus DBD Bisa Ditekan dengan Bakteri Wolbachia, Begini Selengkapnya

Virus demam berdarah (DBD) yang ada di dalam tubuh nyamuk aedes aegypti dapat ditekan menggunakan bakteri wolbachia.

Terungkap, Virus DBD Bisa Ditekan dengan Bakteri Wolbachia, Begini Selengkapnya
kompas.com
Ilustrasi nyamuk 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Virus demam berdarah (DBD) yang ada di dalam tubuh nyamuk aedes aegypti dapat ditekan menggunakan bakteri wolbachia.

Caranya dengan memasukkan bakteri tersebut ke dalam tubuh nyamuk aedes aegypti.

Penelitian tersebut pertama kali dilakukan di Monash University Australia pada tahun 2011.

Bakteri wolbachia yang terdapat pada 70 persen serangga seperti, lalat buah, capung, dan kumbang, dimasukkan pada tubuh telur nyamuk aedes aegypti.

Bakteri wolbachia tersebut akan menekan virus DBD yang ada pada tubuh nyamuk aedes aegypti. Sehingga akan menekan virus dangue yang ada pada nyamuk aedes aegypti.

Setelah tumbuh menjadi nyamuk dewasa, nyamuk-nyamuk tersebut dilepaskan untuk kawin dengan nyamuk liar lainnya.

Pada tahun 2016 penelitian serupa sempat dilakukan ujicoba di Yogyakarta. Sayangnya, hingga saat ini belum ada informasi terkait penelitian tersebut akan dilakukan juga di Bali.

Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Udayana, Sang Gede Purnama, mengungkapkan, penelitian tersebut secara teoritis memang akan mengurangi penularan virus DBD

Namun demikian, hal itu baru mungkin terjadi jika semua nyamuk aedes aegypti terinfeksi bakteri wolbachia.

"Nyamuk yang terinfeksi bakteri bisa berkembangbiak dengan menularkan virus dangue yang rendah. Tapi, kemungkinan pembawa virus masih tetap ada. Kalau memang targetnya untuk menurunkan kasus DBD, ya harus menyuntikkan banyak bakteri. Dan harus dilakukan secara terus menerus," terang Purnama.

Menurutnya, bukan jaminan seseorang yang tinggal dalam lingkungan bersih jentik nyamuk, terhindar dari penyakit DBD.

Mobilitas penduduk yang tinggi dapat menjadi salah satu faktor penularan penyakit DBD.

"Seseorang bisa menderita DBD meskipun di rumahnya bersih dari jentik nyamuk. Hal ini bisa disebabkan karena mobilitasnya tinggi. Kemungkinan bisa terinfeksi di tempat lain yang masih ada jentik,” ungkapnya. (*) 

Penulis: Irma Budiarti
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved