BBPOM: Tidak Semua Merk Ikan Kaleng Ditemukan Cacing, Begini Penjelasannya

Meski ke-27 merk yang sudah diuji laboratorium itu dinyatakan positif terdapat cacing, namun hasil itu tidak diberlakukan untuk semua produk

BBPOM: Tidak Semua Merk Ikan Kaleng Ditemukan Cacing, Begini Penjelasannya
youtube
Ada cacing pita di ikan sarden kalengan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawa Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar secara resmi menarik empat merk produk ikan kaleng yang beredar di supermarket wilayah Denpasar.

Meski begitu, pihaknya membantah isu terkait generalisasi terhadap merk produk ikan kaleng mengandung cacing.

PLH Kepala BBPOM Denpasar, I Wayan Eka Ratnata mengungkapkan, keberadaan cacing dalam ikan kaleng kemasan hanya ada pada beberapa bets (satu produksi) tertentu.

Artinya, meski ke-27 merk yang sudah diuji laboratorium itu dinyatakan positif terdapat cacing, namun hasil itu tidak diberlakukan untuk semua produk.

"Bets itu artinya masa produksi dalam satuan waktu. Misalnya, dalam sekali produksi terdapat 1.000 kaleng, itu istilahnya 1 bets," jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (8/4/2018).

"Nah, yang kami uji hanya pada satu bets tertentu dan pada bets itu positif terkandung cacing. Jadi tidak semua. Untuk keterangan nomor bets juga telah dirilis dalam pengumuman Badan POM RI,” tambahnya.

Eka menambahkan, cacing yang ditemukan hidup dalam ikan kaleng itu murni bawaan dari bahan baku.

Yakni kandungan parasit dalam tubuh ikan itu sendiri sebelum diproduksi jadi makanan kemasan kaleng.

Bahan baku jenis ikan makarel ini kebanyakan diimpor dari China dan Maroko.

"Sebenarnya itu wajar dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia umumnya, terkecuali orang yang memiliki alergi. Namun memang diakui, makanan ini tergolong tidak layak makan dan tergolong benda asing,” tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya akan terus berkoordinasi dalam pengawasan terhadap penarikan produk tersebut, baik oleh produsen dan distributor.

"Sampai kapan belum ditentukan. Saat ini pemilik produk telah melakukan penarikan produknya secara berangsur. Itu terus kita awasi," tegasnya.

Dirinya juga mengimbau kepada pengelola toko dan masyarakat untuk mengawasi peredaran produk ini.

"Kalau belum ada penarikan, baiknya pihak toko menyisihkan produk itu untuk tidak dijual," tandasnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved