Terjadi Setiap Tahun, Cuaca Panas dan Terik di Bali Akhir-Akhir Ini Akibat Gerak Semu Matahari

BMKG Wilayah III Denpasar menjelaskan mengapa cuaca panas dan terik terjadi di wilayah Bali akhir-akhir ini

Terjadi Setiap Tahun, Cuaca Panas dan Terik di Bali Akhir-Akhir Ini Akibat Gerak Semu Matahari
Nova
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar menjelaskan mengapa cuaca panas dan terik terjadi di wilayah Bali akhir-akhir ini, Sabtu (14/4/2018).

Disebutkan, salah satu penyebabnya adalah gerak semu matahari.

Forecaster BMKG Wilayah III Denpasar, I Made Sudarma Yadnya, mengatakan secara umum untuk kondisi panas dan gerah seperti saat ini biasa terjadi setiap tahunnya.

Hal ini disebabkan oleh gerak semu matahari pada bulan Maret-April posisi matahari sekitar equator sehingga akumulasi panas masih tinggi diwilayah sekitarnya termasuk Bali.

Sudarma juga menyampaikan kondisi cerah dan sedikit awan juga menyebabkan intensitas energi sinar matahari langsung ke bumi tanpa halangan.

Saat ini wilayah Bali memasuki musim peralihan/pancaroba dari musim hujan ke kemarau dimana angin bertiup dari Timur-Tenggara yang mebawa masa udara kering dari Australia (melewati wilayah Bali khususnya) menuju Asia.

"Panas matahari yang disertai masa udara kering dan masih lemahnya angin bertiup menyebabkan kondisi panas terasa menyengat dan gerah," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Bagian Humas BMKG Indonesia Hary Djatmiko.

Dikatakan, tak hanya wilayah Bali, cuaca panas dan terik juga melanda Jawa hingga Nusa Tenggara dalam beberapa hari ini.

Namun, fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.

"Kejadian cuaca panas dan terik lebih sering terjadi pada bulan-bulan transisi/pancaroba dan bulan-bulan puncak musim kemarau," katanya belum lama ini.

Ia menjelaskan, faktor-faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, di antaranya, meliputi gerak semu matahari yang saat ini berada di sekitar khatulistiwa dan gerak menuju ke belahan bumi utara atau sebaliknya, yaitu sekitar 21-22 Maret dan 22-23 September.

Saat itu matahari berada tepat diatas khatulistiwa sehingga pancaran sinar matahari dan radiasi matahari yang masuk cukup optimum.

"Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 33 37,2 derajat Celsius. Ini masih dalam kisaran normal. Suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun antara 34-37,5 derajat Celsius," ujarnya.

Faktor lainnya, yaitu mulai tampak adanya aliran massa udara dingin dan relatif cukup lembap yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia sebelah selatan khatulistiwa, terutama di sekitar Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Kondisi ini, kata dia, ditandai dengan adanya kelembapan udara yang 70-60 persen di ketinggian 3.000 meter dan 5.000 meter dari permukaan. (zae/rol)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved